• Selasa, 29 September 2026
Sajian Utama

Belajar dari Pengalaman Batik Sawit dan Bluder Moju

Semangat kewira usahaan lokal menyala terang di aula Universitas Merdeka Madiun, Jumat (23 Mei 2025). 110 peserta tekun menyimak penjelasan pendiri CV Smartk Batik dan Bluder Moju.

Kisah inspiratif datang dari Argo Suryo Saputro, pendiri Bluder Moju, merek roti khas Madiun yang kini telah menembus pasar antar kota. Lahir dan besar di Madiun, Argo mewarisi bakat kuliner dari ibunya yang merupakan guru tata boga. “Dari kecil saya sudah akrab dengan tepung dan teman-temannya,” kenangnya sambil tersenyum.

Argo bercerita Ibunya seorang Guru Tata Boga di SMK. Selain itu, kebetulan suka bikin roti juga dan sering menerima pesanan snack boks, dari situ saya diajari membuat roti bluder karena pelanggan banyak yang suka.

Tahun 2015 menjadi titik balik hidupnya—Argo memutuskan mundur dari pekerjaan lamanya dan menekuni dunia bakery secara serius. “Awalnya, saya buat roti dengan toping moka dan isian keju, susu, dan butter. Dari sinilah nama Moju berasal—singkatan dari moka keju,” ujarnya.

Dari stan ke stan bazar UMKM, Argo dan istrinya memperkenalkan produknya. Dua tahun bersaing di pasar, ia mulai mendapat tantangan: bisa nggak bikin bluder? Setelah proses panjang, ia berhasil meracik resep bluder khasnya sendiri.

Kini Bluder Moju punya lebih dari 15 varian rasa, termasuk empat varian unik seperti pandan cokelat dan moka keju yang tidak ditemukan di produk pesaing. Tak hanya itu, Bluder Moju juga mulai mengembangkan sistem kemitraan dan jaringan reseller di berbagai kota seperti Solo, Yogyakarta, Trenggalek, hingga Surabaya.

Yang menarik, di balik kelembutan roti ini, ada peran kelapa sawit. “Produk kami menggunakan margarin dan Butter Oil Substitute (BOS) sebagai produk turunan dari sawit. BOS ini pengganti butter, tapi bahannya bukan dari hewan, melainkan dari sawit. Jadi, hubungan kami dengan sawit sanga terat,” jelas Argo.

Kelebihan Bluder Moju memiliki bentuk atau ukuran lebih kecil sehingga dirasa pas untuk sekali makan, dengan rasa yang lembut dan cokelat lumer meski dalam kondisi dingin.

Kisah lain datang dari Miftahudin Nur Ihsan, CEO Smart Batik. Berawal sebagai reseller. Selanjutnya, lulusan S2 Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengembangkan motif batik sendiri hingga akhirnya bertemu BPDP dalam acara APEKSI 2023 di Makassar. Pertemuan itulah yang mengubah arah bisnisnya.

Smart Batik kemudian melahirkan inovasi Batik Sawit, yakni batik dengan motif dan pewarna berbasis kelapa sawit. “Ternyata sawit bisa dikembangkan jadi banyak hal, bukan hanya makanan,” ujarnya.

Tak hanya sukses di pasar lokal, Smart Batik bahkan melangkah kepanggung internasional. Pada akhir 2024, Ihsan diundang ke Innovation Festival NUSRI Suzhou di Tiongkok, mewakili Indonesia melalui program LPDP.

Kini Ihsan juga menjabat sebagai Ketua Kompartemen Perdagangan Dalam Negeri di BPC HIPMI Kota Yogyakarta. Ia mengajak pelaku UMKM untuk berani mengeksplorasi potensi sawit. Terkait dengan masyarakat yang memiliki keinginan mengembangkan usahanya, Ihsan, mengajak seluruh pelaku UMKM di Kota Madiun untuk dapat mengembangkan produk-produk berbasis kelapa sawit.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 164)

Artikel Terkait