Kedua perusahaan tersebut berkomitmen menjalankan bisnisnya dengan prinsip keberlanjutan, selaras dengan pedoman Pembangunan Berkelanjutan PBB (UNSDGs). Dalam praktiknya diimplementasikan dengan berpegang pada filosofi usaha RGE yakni 5C - Good for Community, Country, Climate, Customer, dan Company
Asian Agri dan Apical menjelaskan perkembangan bisnisnya dengan komitmen berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan dengan Asian Agri 2030 dan Apical 2030, yang telah diluncurkan beberapa tahun lalu.
Asian Agri melalui Asian Agri 2030 menginginkan seluruh operasional bisnisnya mengintegrasikan keberlanjutan untuk menghasilkan dampak yang optimal. Sementara, Apical dengan Apical 2030 memiliki target keberlanjutan yang strategis dengan pendekatan inklusif dan rencana strategis untuk mencapai akuntabilitas dan dampak yang lebih besar, Apical 2030, dengan membangun rantai pasokan yang lebih berkelanjutan dan bertanggungjawab serta mengatasi tantangan lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST).
Director of Corporate Affairs RGE Palm Business, Johan Kurniawan, menyampaikan komitmen keberlanjutan kedua perusahaan selaras dengan pedoman Pembangunan Berkelanjutan PBB (UNSDGs). “Dalam praktiknya diimplementasikan dengan berpegang pada filosofi usaha RGE yakni 5C - Good for Community, Country, Climate, Customer, dan Company,” ujarnya, saat acara buka bersama bareng media, pada Maret lalu.
Kelapa sawit komoditas strategis
Dikatakan Johan, bahwa nilai strategis komoditas Kelapa Sawit merupakan elemen kunci perekonomian nasional mulai dari kontribusi devisa hingga penyedia lapangan kerja. Keberadaan industri sawit merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kesejahteraan petani rakyat khususnya yang tergabung dalam program kemitraan dan inti plasma.
“Sebagai produsen dan pengolah minyak sawit, Asian Agri dan Apical beroperasi dengan mengedepankan prinsip berkelanjutan yang bertanggungjawab sehingga produk yang dihasilkan mendatangkan kebermanfaatan. Mulai dari kebutuhan domestik rumah tangga seperti minyak goreng hingga bahan bakar, singkatnya #DariDapurSampaiAvtur,” katanya.
Sebagai rangkaian menuju industri sawit berkelanjutan, Asian Agri meluncurkan komitmen dan juga strategi jangka panjang yang berfokus pada empat pilar utama, yaitu Kemitraan Dengan Petani, Pertumbuhan Inklusif, Iklim Positif dan Produksi yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan. Asian Agri percaya bahwa keberadaan perusahaan memiliki tujuan memberikan nilai positif bagi petani, masyarakat, dan lingkungan.
Setelah dua tahun berjalan, Asian Agri mencatat perkembangan yang relatif positif, terutama pada Pilar Kemitraan dengan Petani dan Pilar Pertumbuhan Inklusif. Beberapa target pada kedua pilar ini telah berkembang dengan sangat baik sesuai dengan yang diharapkan.
Pada kesempatan yang sama, Leonardo Yapardi, Sustainability Manager Asian Agri menambahkan, petani kelapa sawit memegang peranan yang penting dalam keberlanjutan Asian Agri. Untuk itu, pihaknya memiliki komitmen untuk mensertifikasi semua petani mitra dengan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di tahun 2025.
“Hingga 2024, Asian Agri telah membantu 11 KUD memperoleh sertifikasi ISPO atau setara 49 % dari target. Melalui semangat #BermitraLebihBaik, Asian Agri mendorong KUD untuk memulai proses sertifikasi sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang kewajiban ISPO di tahun 2025,” ungkap Leo.
Sementara, pada pilar Pertumbuhan Inklusif Asian Agri 2030 telah menyentuh 34% target dalam bentuk pelatihan vokasi kepada lebih dari 1.700 orang, mendukung pembentukan UMKM di 54 desadari total 159 desa di sekitar daerah operasional yang terletak di Sumatra Utara, Riau dan Jambi.
(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 163)














