APKASINDO: PSR Topang Food Estate Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Hampir jam 11.00 malam, pembicaraan Food Estate (Lumbung Pangan)  berlangsung semakin hangat. Topik ini dibahas untuk menjawab permintaan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo sewaktu bertemu jajaran pengurus DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) pada akhir November 2020. Menteri ingin petani sawit untuk membangun kawasan food estate sawit.

“Dalam pertemuan tersebut, Mentan meminta APKASINDO terlibat aktif untuk pengembangan food estate sawit. Lokasinya tidak perlu banyak, bisa Sumatera atau Indonesia Timur sebagai model. Menteri ingin wujudkan korporasi petani sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Food estate ini dapat menjadi pintu masuk,” kata Syaiful Bahri, Staf Khusus Menteri Pertanian RI.

Syaiful mengatakan Mentan ingin melihat kemampuan APKASINDO berkaitan food estate. Pola ini dapat terintegrasi dengan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Tidak sebatas bicara PSR atau sarana prasarana. Petani punya proyeksi membangun model dan membangun basis korporasi.

“Pertanyaannya, seberapa mampu APKASINDO membangun (food estate)?” ujar Syaiful yang juga aktif menjabat Dewan Pakar DPP APKASINDO.

Obrolan Food Estate sawit diulas oleh DPP APKASINDO bersama pakar dan pemangku kepentingan Kementerian Pertanian RI pada Senin malam (25 Januari 2021). Diantaranya Ir. Gulat ME Manurung, MP, CAPO (Ketum DPP APKASINDO), Rino Afrino (Sekjen DPP APKASINDO), Heru Tri Widarto (Direktur Tanaman Tahunan), Agus Hartono (Kasubdit Sawit Ditjen Perkebunan), Mayjen TNI (Purn) Erro Kusnara (KSP RI), Dr. Purwadi (Dewan Pakar DPP APKASINDO), Dr. Tri Chandra (Kantor Wakil Presiden RI), Wayan Supadno (Inovator Pertanian),  H. Suher (Ketua DPW APKASINDO Riau), dan Qayuum Amri (Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia.

Heru Tri menuturkan model Food Estate yang diinginkan Menteri Pertanian bersifat multi komoditas. Lumbung pangan dibangun terintegrasi mencakup berbagai komoditas, seperti tanaman pangan, perkebunan, hortikultura dan peternakan dalam satu kawasan.

“Jadi, tanaman sawit dapat terintegrasi dengan komoditas lain. Contoh di Kalimantan Tengah, fokus food estate adalah padi. Tapi, dapat diusahakan komoditas tanaman lain sela. Begitupula di Humbang Hasundutan, food estatenya fokus hortikultura tapi adapula tanaman lain seperti kopi ,” ungkapnya.

Heru Tri menyatakan tantangan food estate ini bagaimana petani yang jago tanam sawit dan padi. Tapi dapat pula  mengembangkan tanaman atau usaha lain seperti integrasi sawit dengan sapi. Melalui food estate, keinginan membangun korporatisasi petani dapat terwujud. “Pekerjaan rumahnya adalah membangun korporasi petani yang handal,” jelasnya.

Berbicara korporatisasi petani bukan pekerjaan mudah. Butuh kehadiran suri tauladan dan contoh kesukesan pelakunya. Adalah Wayan Supadno – akrab dipanggil PakTani – telah berhasil menyatukan perkebunan sawit dengan usaha budidaya sapi. Pria kelahiran Banyuwangi, 54 tahun silam ini, memiliki 500 ekor sapi lebih.

“Pelihara sapi memberikan banyak manfaat. Pupuk gratis untuk tanaman. Asal tahu saja, biaya pemupukan itu 60 persen dari biaya pokok produksi. Bonus lainnya adalah pedet (red-anak sapi). Ini bisa dikomersialkan karena rerata pertumbuhan berat daging sapi  antara 40 sampai 50 kilogram per ekor,” ujar mantan Perwira TNI Angkatan Darat.

Kunci utama sukses berkebun adalah menekan biaya pokok produksi. Asalkan mau ternak sapi, biaya produksi dapat ditekan dari  sekitar Rp 900 per kilogram menjadi  Rp400 per kilogram. Petani dapat menikmati profit margin tinggi.

Bagi  Wayan, kunci utama sukses berkebun adalah menekan biaya pokok produksi. Asalkan mau ternak sapi, biaya produksi dapat ditekan dari  sekitar Rp 900 per kilogram menjadi  Rp400 per kilogram. Petani dapat menikmati profit margin tinggi. Menurutnya, mau harga TBS petani berapapun jika biaya produksi dapat ditekan. Petani tidak akan cemas turun naik harga sawit.

“Informasi ini perlu disebarkan kepada petani terutama masyarakat. Supaya petani tidak diidentikkkan dengan kebakaran atau banjir. Petani sawit itu sangat fleksibel dalam berbagai medan dan goncangan. Dan banyak dilupakan bahwa perkebunan sawit salah satu bank daging sapi nasional.  Untuk itu, perlu ada suri tauladan yang dapat direplikasi petani,” jelasnya.

Tidak hanya fokus sawit, Wayan juga berpengalaman membudidayakan jeruk Chokun atau jeruk Madu Thailand. Di atas lahan sekitar 12 hektare, Wayan sukses membudidayakan jeruk Chokun. “Jeruk ini rasanya manis dan cocok di iklim tropis. Sekali panen, pendapatan dari Jeruk Chokun sampai satu miliar lebih,” jelasnya.

Jika food estate sawit berjalan, Wayan Supadno meminta pemerintah untuk membenahi logistik. Buruknya logistik akan berdampak kepada Harga Pokok Produksi  (HPP). “Indek logistik kita urutan keempat di ASEAN. Tak heran, harga pangan Indonesia kalah bersaing dengan negara lain,” ujarnya.

Gulat Manurung merasa tertantang dengan beragam usulan pembahasan food estate. “Konsep food estate ini bagaimana menyediakan pangan dalam bentuk produk. Sawit masuk kategori ini dan telah melangkah jauh,” ujarnya.

Dijelaskan Gulat bahwa tujuan food estate ingin meningkatkan nilai tukar petani. Selanjutnya petani dapat tingkatkan daya beli, daya saing dan multi efek ekonomi  lainnya akan ikut berputar. Saat bertemu petani PSR yang eks Plasma, saya pernah bertanya kepada mereka,“Ketika ada program diversifikasi jagung dan padi dari kementerian diantara sawit PSR, kenapa bapak tidak berhasil? Lalu mereka jawab: “Kami sudah 30 tahun tanam sawit, harus belajar lagi kalau ke tanaman pangan”.

Setelah selesai panen jagung yang kurang berhasil tadi, secara mandiri-mandiri Petani PSR tersebut mencoba menanam cabe, ternyata berhasil. Karena cabe lebih jelas pasarnya. Meskipun harus banyak dibimbing oleh penyuluh pertanian. “Artinya biarlah petani memilih prospek pasarnya dan dinas terkait tinggal memandu agronomi dan pasarnya,” ujar ayah dua anak ini.

Menurut Gulat, program PSR  sawit paling siap untuk food estate. Coba kalau target bisa tercapai 180 ribu ha. Minimal 30%  bisa ikut program food estate. “Sudah gak kebayang multiplier effect-nya,” katanya.

Dr. Tri Chandra mengusulkan supaya dibuat sistem manajemen baik pra dan pasca panen. Jadi tidak sebatas konsolidasi dan bagi-bagi lahan. “Ini bukan hanya sekadar memilih tempat dimana food estate berjalan. Disitu, ada partisipasi masyarakat  bekerja orang sawit. Karena,  ada basis organisasi seperti pengelolaan dan penataan mulai tanam sampai distribusi. Bisnis proses ini harus dipikirkan dalam konsep food estate,” jelas Tri.

Sementara itu, Dr.Purwadi mengatakan bahwa kita mengubah arah gelombang, dan mendorong balik gelombang pasang baru. Yaitu Indonesia feed the world dengan minyak nabati. “Produksi melimpah harga kompetitif, kasih pangan dunia terutama negara-negara berkembang. Itu baru Indonesia Raya.  Jadi, mendorong balik  dan memberi arah baru gelombang pasang.  Arah baru bagi  keberpihakan kepada pekebun rakyat sawit,” tutur Purwadi sebagai penutup diskusi.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like