• Senin, 28 September 2026
Sajian Utama

AKPY ‘STIPER’ Siapkan SDM Sawit Kompeten dan Adaptif di Era Digital

Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY ‘STIPER’) sukses menyelenggarakan dua jenjang Diploma I (prodi Pembibitan Kelapa Sawit dan prodi Pemeliharaan Kelapa Sawit) dan Diploma II (prodi Budidaya Kelapa Sawit dan prodi Teknik Pengolahan Kelapa Sawit). Lalu, seperti apa strategi AKPY ‘STIPER’ untuk membangun SDM sawit unggul di era digital?

Lembaga pendidikan tinggi perlu melakukan terobosan atau inovasi dalam hal penyelenggaraan pendidikannya, terutama dalam hal pembelajaran beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Direktur AKPY ‘STIPER’, Dr. Sri Gunawan, S.P, M.P,IPU menyampaikan perguruan tinggi harus memiliki strategi dalam pengembangan SDM perkebunan kelapa sawit di era digital.

“Perlunya strategi dan solusi transformasi SDM di era teknologi digital. Maka, upaya yang harus dilakukan merubah pendidikan tidak fokus pada teori tetapi pada keterampilan nyata. Kemudian, kurikulum berbasis SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia), model pendidikan harus link and match dan diperkuat dengan soft skill, keterampilan praktis dan adaptif dengan teknologi. Selanjutnya, mahasiswa harus dikenalkan dengan teknologi digital: IoT, AI, Drone, Big Data, Tracibility, Automasi, sejak berada di kampus. Mahasiswa, generasi Z & millenial di industri sebagai motor transformasi digital di sektor sawit. Mahasiswa, yang merupakan generasi Z dan milenial, harus disiapkan menjadi motor penggerak transformasi digital di sektor sawit,” ujarnya saat ditemui di Jakarta pada awal Oktober lalu.

Upaya tersebut telah mulai diterapkan oleh AKPY ‘STIPER’, yang secara konsisten mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi dan praktik lapangan sejak mahasiswa pertama kali masuk kampus. Melalui kegiatan Bina Mental, Fisik, Disiplin dan Kenal Kebun (Bintalfisdisbun), mahasiswa diperkenalkan pada kehidupan dan tantangan nyata di perkebunan kelapa sawit.

“Jika pendekatan seperti ini dilakukan secara konsisten oleh seluruh perguruan tinggi, maka kebutuhan industri akan SDM sawit yang kompeten, berkarakter, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi dapat terpenuhi. Saat ini hampir seluruh lini industri sawit, mulai dari kebun, pabrik (CPO), refinery hingga pemasaran, telah menerapkan teknologi digital,” imbuh Dr. Sri Gunawan.

Apa yang telah diimplementasikan dan dilakukan oleh AKPY ‘STIPER’, diawali dengan pengenalan ragam alat pendukung pembelajaran sudah dikenalkan sejak mahasiswa masuk kampus melalui kegiatan Bintalfisdisbun. Apabila itu dilakukan oleh semua perguruan tinggi, tak terkecuali pendidikan tinggi penyelenggara Beasiswa SDM Sawit maka kebutuhan SDM yang kompeten dapat menjawab semua tantangan yang ada.

Mengingat, hampir di semua lini industri sawit sudah mulai menggunakan dan menerapkan teknologi digital mulai di kebun hingga pabrik (CPO) dan refinery dan pemasarannya.

Strategi mempersiapkan SDM sawit sesuai kebutuhan industri dilakukan AKPY ‘STIPER’ salah satunya melalui kegiatan Bintalfisdisbun, untuk mengenalkan bidang yang akan ditapaki selama menempuh pendidikan (pembelajaran) dan sebagai bekal untuk terjun di industri sawit. Upaya lain, kegiatan Bintalfisdisbu dilengkapi dengan kegiatan tahunan yakni pameran alat mekanisasi dan otomasi yang dipergunakan di perkebunan sawit. Alat-alat yang dipamerkan antara lain Drone (Drone pemetaan, drone pemantau keamanan, drone analasis kesehatan tanaman, drone penyerbukan), SST (Smart Soil Tester), Mesin potong rumput RC (Remote Control), Chopper biru, Chopper merah, Mesin Pellet, Pirolisis kuning, Pirolisis biru, Kompor roket, Kompor oli, Traktor, Grabber, Scicors lift, Transporter, dan FS (Fertilizer Sprider).

“Semua alat-alat yang dipamerkan dikembangkan atau inovasi dari para dosen yang ada di AKPY ‘STIPER’. Untuk dimanfaatkan dalam mendukung pembelajaran dan perkuliahan mahasiswa. Tujuannya mengenalkan sejak dini kepada para mahasiswa agar mengenal dan memahami sehingga saat terjun ke dunia kerja sudah tahu dan memahami cara kerjanya,” jelas Dr. Sri Gunawan, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Umum ALPENSI.

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas SDM sawit di era digital. Saat ini industri sawit nasional menghadapi tantangan serius dalam penyediaan tenaga kerja terampil.

“Maka, penerapan teknologi digital (digitalisasi) menjadi keharusan agar industri sawit tetap kompetitif. Maka, pendidikan tinggi harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri dan menekankan keterampilan praktis. Dengan SDM yang kompeten dan melek digital, industri sawit akan mampu meningkatkan efisiensi dan menjawab tuntutan global akan keberlanjutan,” tegas Dr. Sri Gunawan.

Untuk menunjang pembelajaran dan perkuliahan bagi mahasiswanya, AKPY ‘STIPER’ membagikan komputer jinjing (red-laptop). Hal ini untuk mengenalkan komputerisasi di industri sawit, mengingat saat ini hampir semua perusahaan sawit sudah menerapkan komputerisasi dalam mendukung operasional.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 168)

Artikel Terkait