• Minggu, 8 November 2026
Sajian Utama

AKPY-STIPER Jadikan SDM Sawit Mampu Kerja

Pendidikan vokasi bukan sekadar jembatan mendapatkan pekerjaan, tetapi dapat menjadi pijakan karir profesional di industri kelapa sawit. Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER) menjadi lembaga andal untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) sawit yang siap kerja, tangguh, dan terampil.

Direktur AKPY-STIPER, Dr. Sri Gunawan, SP, MP, IPU, mengatakan tantangan pendidikan vokasi saat ini bukan hanya meluluskan mahasiswa, melainkan memastikan mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan industri. Lulusan diharapkan mampu menjalankan pekerjaan, beradaptasi dengan lingkungan perusahaan, serta bertahan dan berkembang dalam menghadapi tantangan dunia kerja.

“Target kami bukan sekadar meluluskan mahasiswa, tetapi menyiapkan SDM yang dibutuhkan industri. Harapannya, lulusan kami bisa diserap perusahaan, mampu bekerja, dan bertahan di tempat kerja,” ujarnya dalam forum diskusi bersama perwakilan perusahaan perkebunan di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Jawa Tengah.

Menurut Dr. Sri Gunawan, perubahan kebutuhan industri sawit menuntut lembaga pendidikan untuk terus menyesuaikan proses pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus memiliki keterampilan praktis dan karakter kerja yang kuat.

Kompetensi tenaga kerja, jelasnya, merupakan perpaduan antara knowledge, skill, dan attitude. Ketiganya menjadi bekal penting bagi lulusan agar mampu menjalankan tugas secara profesional, mulai dari pekerjaan teknis di lapangan hingga bekerja bersama tim dalam lingkungan perusahaan.

Nilai siap kerja, tangguh, dan terampil terus diperkuat dalam proses pendidikan AKPY-STIPER. Pembentukan kompetensi tersebut dilakukan melalui perkuliahan, praktik, kegiatan laboratorium, dan praktik kerja lapangan (PKL).

Dengan masa pendidikan Diploma 1 (D1) sekitar delapan bulan dan Diploma 2 (D2) 18 bulan, pembelajaran dirancang agar mahasiswa dapat memahami materi sekaligus menerapkannya secara langsung. Pendekatan ini penting untuk membekali lulusan dengan kemampuan praktis yang sesuai dengan pekerjaan di perkebunan kelapa sawit.

“Kami ingin mahasiswa memiliki keyakinan bahwa mereka mampu bekerja dan menyelesaikan tugas. Semangatnya yes, i can, I will do it, we are a team,” kata Dr. Sri Gunawan.

Industri Dilibatkan, Kompetensi Terus Diperkuat

Untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, AKPY-STIPER melibatkan pelaku industri dalam evaluasi dan pengembangan pembelajaran. Masukan dari perusahaan menjadi bahan penting untuk mengetahui kekurangan lulusan sekaligus menentukan kemampuan yang perlu diperkuat selama mahasiswa menjalani pendidikan.

Salah satu perhatian utama adalah kesiapan mahasiswa ketika memasuki dunia kerja melalui program magang. Pengalaman magang selama tiga bulan diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari persyaratan pendidikan, tetapi juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk melanjutkan karier di perusahaan tempat mereka belajar.

Namun, pengalaman magang tidak selalu berujung pada hubungan kerja. Oleh karena itu, AKPY-STIPER ingin mengetahui faktor yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam merekrut lulusan, termasuk kemampuan teknis, kedisiplinan, integritas, komunikasi, dan ketangguhan mahasiswa.

“Kami ingin mendapatkan masukan dari perusahaan, lulusan kami masih kurang di bagian mana dan apa yang harus diperbaiki,” ujar Direktur AKPY-STIPER lulusan doktor dari universitas ternama.

Melalui dialog tersebut, AKPY-STIPER berupaya membangun hubungan yang lebih erat antara pendidikan dan industri. Dengan demikian, materi pembelajaran dan pembentukan karakter mahasiswa dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Selain kompetensi teknis, kemampuan digital juga menjadi perhatian. Penguasaan komputer dan teknologi diperlukan agar lulusan mampu mengikuti perkembangan sistem kerja dan administrasi di perusahaan perkebunan modern.

AKPY-STIPER berupaya memperkuat kemampuan tersebut melalui pembelajaran digital, sehingga mahasiswa memiliki bekal untuk menggunakan teknologi selama pendidikan maupun ketika memasuki lingkungan kerja.

Aspek kesiapan mahasiswa juga menjadi perhatian dalam perencanaan pengembangan pendidikan. AKPY-STIPER berencana memperkuat pemetaan kesiapan melalui asesmen psikologis untuk mengenali ketangguhan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja. Pemetaan minat lokasi kerja turut dipertimbangkan agar penyaluran lulusan dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan perusahaan.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah mahasiswa perempuan mendorong pentingnya pemetaan kompetensi yang lebih tepat. Menurut Sri Gunawan, peluang kerja perlu dibuka berdasarkan kemampuan dan kompetensi masing-masing lulusan. Masukan industri dibutuhkan untuk mengetahui bidang pekerjaan yang dapat diisi secara optimal oleh lulusan perempuan maupun laki-laki.

Lulusan D1-D2 Berpeluang Menjadi Manajer

Penguatan kompetensi tersebut sejalan dengan pandangan Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), Dr. Ir. Purwadi, MS, yang menegaskan bahwa jenjang pendidikan bukan batas bagi seseorang untuk mengembangkan karier.

Lulusan AKPY-STIPER dari program D1 Pembibitan Kelapa Sawit dan Pemeliharaan Kelapa Sawit serta D2 Budidaya Kelapa Sawit dan Teknik Pengolahan Kelapa Sawit memiliki peluang membangun karier melalui pengalaman, keterampilan, disiplin, dan kinerja.

“Jadi dari diploma pun bisa sampai manajer,” ujar Purwadi saat Pembukaan Kuliah dan Bintalfisdisbun AKPY-STIPER di SEAT (KP2 STIPER), Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (7 Oktober 2026).

Menurutnya, lulusan dapat mengawali karier pada posisi operasional, seperti foreman atau mandor. Dengan pengalaman dan peningkatan kompetensi, mereka berpeluang berkembang menjadi Junior Supervisor, Supervisor, hingga menduduki jabatan manajerial.

Sejumlah alumni AKPY juga telah menempati posisi manajerial di perusahaan perkebunan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi dapat menjadi fondasi untuk membangun karier jangka panjang, bukan sekadar memperoleh pekerjaan pertama.

Dr. Purwadi pun meminta mahasiswa tidak minder dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Menurutnya, peluang berkembang ditentukan pula oleh kesungguhan belajar, kemampuan menyelesaikan pekerjaan, dan kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi.

“Tidak ada kata lain kalau ditanya ‘bisa tidak?’, jawabannya harus: Yes, I can!” tegasnya.

Berbeda Jenjang, Satu Tujuan Menyiapkan SDM Sawit

Dalam ekosistem pendidikan YPKPY, AKPY-STIPER berfokus pada pendidikan vokasi D1 dan D2, sedangkan Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) Yogyakarta mengembangkan pendidikan berbasis sains dan akademik. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menyiapkan SDM bagi industri perkebunan.

“Leveling-nya berbeda, tetapi DNA-nya sama,” kata Dr. Purwadi.

Perbedaan pendekatan pendidikan tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi di lingkungan kerja. Lulusan AKPY-STIPER dan INSTIPER perlu mampu bekerja bersama dengan keahlian masing-masing untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

Dr. Purwadi juga menekankan pentingnya kerja sama melalui semangat “We are A Team”. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan individual, tetapi juga harus mampu menjadi bagian dari tim yang solid, saling mendukung, dan memberikan kontribusi terbaik.

Keberhasilan pendidikan vokasi tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa yang lulus atau ijazah yang diperoleh. Paling Utama, lulusannya lebih terampil, menjaga karakter kerja, dan memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan,” pungkasnya.

Artikel Terkait