• Jumat, 25 September 2026
Berita Terbaru

AKPY: Field Trip ke PT AJP Jadikan Teori Panen dan Pascapanen Lebih Mudah Dipahami Pekebun Paser

Samboja, SAWIT INDONESIA – Kunjungan lapangan (field trip) ke PT Alam Jaya Persada (AJP) – KPN Plantation di Samboja menjadi bagian penting dalam Pelatihan Petani Sawit Kelas Panen dan Pascapanen yang diikuti 156 pekebun asal Kabupaten Paser. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak menghubungkan materi yang telah dipelajari di ruang kelas dengan praktik nyata di kebun dan pabrik kelapa sawit.

Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi,S.P, M.P, mengatakan bahwa pembelajaran di lapangan merupakan pelengkap dari materi yang telah diberikan selama pelatihan. Menurutnya, pengalaman melihat langsung proses panen hingga penerimaan tandan buah segar (TBS) di pabrik akan membuat peserta lebih mudah memahami standar yang diterapkan di industri.

"Kegiatan hari ini merupakan lanjutan dari materi panen dan pascapanen yang telah diberikan di kelas. Harapan kami, apa yang dilihat peserta di lapangan benar-benar selaras atau matching dengan teori yang sudah mereka pelajari, sehingga pemahaman mereka menjadi lebih utuh," ujarnya saat membuka kunjungan lapangan di PT Alam Jaya Persada (AJP), Samboja, pada Senin (20 Juli 2026).

Ia menjelaskan bahwa meskipun fokus pelatihan adalah panen dan pascapanen, praktik di lapangan tidak dapat dipisahkan dari aspek teknis budidaya kelapa sawit. Karena itu, peserta diharapkan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengelolaan kebun hingga proses pengolahan hasil panen.

"Panen dan pascapanen tidak pernah berdiri sendiri. Kegiatan tersebut selalu berkaitan dengan teknis budidaya. Oleh sebab itu kami berharap peserta mendapatkan penjelasan yang selengkap-lengkapnya, mulai dari proses di kebun hingga buah diterima di pabrik," katanya.

Menurut Idum, salah satu tujuan utama field trip adalah memberikan pemahaman mengenai standar mutu TBS yang diterapkan perusahaan, terutama pada tahapan grading di loading ramp. Selama ini, masih banyak pekebun yang belum memahami secara rinci penyebab buah yang mereka kirim ditolak atau mendapatkan potongan kualitas.

"Sering kali petani merasa buah yang mereka panen sudah bagus, bahkan menganggap layak memperoleh grade terbaik. Namun ketika sampai di pabrik ternyata ada yang ditolak atau terkena potongan. Melalui kunjungan ini mereka bisa mengetahui secara langsung indikator mutu buah, proses grading, hingga alasan teknis mengapa suatu tandan diterima atau tidak," jelasnya.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi peserta ketika kembali mengelola kebun masing-masing sehingga kualitas TBS yang dihasilkan semakin baik dan sesuai dengan standar industri.

Lebih lanjut, Idum mengatakan bahwa pembelajaran tidak berhenti setelah kunjungan lapangan. Hasil pengamatan peserta selama berada di kebun dan pabrik akan kembali dibahas dalam sesi kelas pada hari berikutnya sehingga berbagai temuan dan pengalaman dapat didiskusikan bersama narasumber.

"Besok peserta masih mengikuti sesi pembelajaran di dalam kelas. Di sana mereka dapat mengulas kembali apa yang sudah dilihat selama field trip, berdiskusi, serta mengonfirmasi berbagai hal yang mungkin belum dipahami. Dengan cara seperti ini, proses belajar menjadi lebih efektif karena teori dan praktik saling melengkapi," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Idum juga menyampaikan apresiasi kepada manajemen PT Alam Jaya Persada yang telah menerima rombongan peserta dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran di lapangan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Alam Jaya Persada yang telah menerima rombongan peserta pelatihan dengan sangat baik. Kami berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerap sebanyak mungkin ilmu dan pengalaman dari praktik terbaik yang diterapkan perusahaan, sehingga nantinya dapat diimplementasikan di kebun masing-masing," tutupnya.

Field trip ke PT Alam Jaya Persada merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Melalui perpaduan pembelajaran di kelas dan praktik langsung di lapangan, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi pekebun dalam menerapkan standar panen dan pascapanen yang baik, menghasilkan TBS berkualitas, serta meningkatkan produktivitas dan pendapatan usaha tani sawit rakyat secara berkelanjutan.

Artikel Terkait