Makassar, SAWIT INDONESIA – Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat tidak hanya bergantung pada benih unggul atau sarana produksi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM) pekebun. Berangkat dari semangat tersebut, sebanyak 149 pekebun asal Kabupaten Wajo mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian pada 24–30 Juli 2026 di Makassar.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Andi Pamereni, M.Si., mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan kompetensi petani sehingga berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
“Pelatihan gelombang kedua ini melanjutkan kegiatan sebelumnya yang diikuti sekitar 150 peserta. Hingga tahun ini, sekitar 400 pekebun sawit Wajo telah memperoleh pelatihan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan,” katanya.
"Kami berharap kualitas SDM petani sawit semakin meningkat sehingga mampu meningkatkan produktivitas kebun dan pendapatan masyarakat," sambung Andi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, Kabupaten Wajo memiliki potensi lahan sawit sekitar 35 ribu hektare, namun baru sekitar 8.000 hektare yang telah ditanami, termasuk sekitar 2.800 hektare kebun milik pekebun swadaya. Karena itu, penguatan kapasitas petani menjadi salah satu strategi penting untuk mengoptimalkan potensi tersebut.
“Sebagian besar pekebun swadaya masih mengelola kebun berdasarkan pengalaman sehingga pelatihan teknis sangat dibutuhkan, mulai dari penggunaan bibit unggul bersertifikat, pengelolaan lahan, pemupukan hingga penerapan praktik budidaya yang sesuai standar. Untuk melengkapi pengetahuan, nantinya peserta akan mendapat kesempatan kunjungan lapangan ke PTPN Keera,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa SDM yang berkualitas merupakan kunci peningkatan produktivitas sawit rakyat di tengah tantangan perubahan iklim dan perkembangan teknologi.
"Petani sekarang tidak boleh hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga harus terus belajar dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi," katanya.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai penggunaan bibit unggul, pengelolaan tanah sehat, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga pentingnya menjaga populasi serangga penyerbuk. Idum juga mengingatkan peserta agar tidak menggunakan bibit yang tidak bersertifikat dan lebih memanfaatkan sumber daya di sekitar kebun untuk meningkatkan kesehatan tanah.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Nurul Fitriany Alimuddin, SP, mengapresiasi antusiasme peserta.
Menurutnya, hingga saat ini sekitar 2.200 pekebun sawit di Sulawesi Selatan telah mengikuti pelatihan yang didukung BPDP, namun masih banyak petani yang memerlukan peningkatan kompetensi.
"Harapan kami ada perubahan nyata setelah pelatihan. Ketika produktivitas meningkat, manfaatnya akan kembali kepada petani dan keluarganya," ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para pekebun diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan. Dengan SDM yang semakin kompeten, produktivitas sawit rakyat di Kabupaten Wajo diharapkan terus meningkat melalui pengelolaan kebun yang lebih baik, tanpa harus membuka lahan baru.














