Tapin, SAWIT INDONESIA – Komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan terus diwujudkan melalui pendekatan pembelajaran yang memadukan teori dan praktik. Sebanyak 84 peserta yang terdiri atas pekebun sawit, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN) dari Kabupaten Tanah Bumbu mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) Tahun 2026. Sebagai bagian dari rangkaian pelatihan, para peserta mengikuti kegiatan field trip atau kunjungan lapangan ke kebun PT Kharisma Inti Usaha (KIU) di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Kegiatan yang difasilitasi Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama BPDP dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian pelatihan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung mengenai penerapan budidaya kelapa sawit di tingkat perusahaan. Melalui kunjungan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis di dalam kelas, tetapi juga melihat implementasi praktik budidaya sesuai standar operasional di lapangan.
Selama berada di lokasi, para peserta diajak mengamati berbagai aktivitas pengelolaan kebun, mulai dari pemeliharaan tanaman, pemupukan, penyemprotan, hingga proses panen dan pengangkutan tandan buah segar (TBS). Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal yang dapat diterapkan ketika peserta kembali mengelola kebun masing-masing di Kabupaten Tanah Bumbu.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, mengatakan kegiatan field trip merupakan metode pembelajaran yang dirancang untuk menjembatani materi yang telah diterima di kelas dengan kondisi nyata di lapangan.
Menurutnya, pemahaman yang diperoleh peserta akan menjadi lebih komprehensif ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung bagaimana teknik budidaya diterapkan di perkebunan.
"Kami ingin setelah beberapa waktu peserta berada di kelas dan mendapatkan teori dari para narasumber, mereka juga bisa melihat praktik secara langsung di lapangan. Harapannya, pengalaman ini menjadi tambahan bekal yang dapat diterapkan ketika kembali mengelola kebun masing-masing," ujarnya.
Idum menjelaskan, peserta dari Kabupaten Tanah Bumbu dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai kelas pelatihan. Pembagian tersebut dilakukan agar proses pembelajaran di lapangan berjalan lebih efektif dan setiap kelompok dapat mengikuti seluruh rangkaian praktik secara optimal, sekaligus memudahkan penyusunan laporan serta dokumentasi hasil kunjungan.
Selain mengamati proses kerja di perkebunan, peserta juga didorong aktif berdiskusi dengan tim teknis perusahaan mengenai berbagai tantangan maupun solusi dalam pengelolaan kebun kelapa sawit. Dengan demikian, wawasan yang diperoleh tidak hanya berasal dari materi pelatihan, tetapi juga dari pengalaman praktis para pelaku di lapangan.
Sementara itu, Estate Manager PT Kharisma Inti Usaha, Normula Jimmy Sinambela, menyambut baik kunjungan peserta pelatihan dan menyampaikan bahwa kebun yang menjadi lokasi pembelajaran didominasi tanaman menghasilkan (TM), sehingga aktivitas operasional yang dapat diamati peserta berfokus pada kegiatan produksi.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan utama di lapangan meliputi panen, pengangkutan tandan buah segar (TBS), pemupukan, serta penyemprotan sebagai bagian dari perawatan tanaman menghasilkan. Aktivitas tersebut merupakan pekerjaan rutin yang harus dilakukan secara tepat agar produktivitas kebun tetap terjaga.
"Kebun yang akan dikunjungi didominasi tanaman menghasilkan. Karena itu, peserta akan melihat secara langsung kegiatan panen, transportasi TBS, pemupukan, dan penyemprotan yang menjadi aktivitas rutin di perkebunan," jelasnya.
Meski lokasi kunjungan lebih banyak menampilkan tanaman menghasilkan, Normula menegaskan peserta tetap dapat memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan tanaman belum menghasilkan (TBM). Menurutnya, berbagai aspek budidaya, baik pada fase TBM maupun TM, dapat didiskusikan bersama instruktur selama kegiatan berlangsung.
Ia berharap kesempatan tersebut dimanfaatkan peserta untuk memperdalam pengetahuan dan bertanya mengenai berbagai praktik terbaik dalam pengelolaan perkebunan, sehingga ilmu yang diperoleh benar-benar dapat diaplikasikan di kebun masing-masing.
Melalui kegiatan field trip ini, Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026 menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis praktik sebagai bagian dari peningkatan kompetensi pekebun sawit. Kombinasi antara teori di kelas dan pengalaman langsung di lapangan diharapkan mampu menghasilkan pekebun yang lebih profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menerapkan praktik budidaya yang baik guna meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, dan daya saing perkebunan sawit rakyat secara berkelanjutan.














