Bengkulu SAWIT INDONESIA — Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci bagi pekebun kelapa sawit dalam menjaga kualitas tandan buah segar (TBS) dan meningkatkan rendemen. Pengetahuan tentang kematangan buah, rotasi panen, hingga penanganan TBS setelah dipanen menjadi keterampilan penting yang perlu dikuasai pekebun.
Hal tersebut menjadi fokus Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen dalam Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diikuti 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelatihan diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian pada 8–12 September 2026 di Bengkulu.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., mengatakan pelatihan menjadi momentum untuk meningkatkan kemampuan pekebun dalam mengelola hasil kebun.
Provinsi Bengkulu memiliki lebih dari 450.000 hektare perkebunan kelapa sawit, dengan lebih dari 300.000 hektare merupakan perkebunan rakyat. Sementara Bengkulu Selatan menjadi salah satu sentra sawit dengan kontribusi produksi minyak sawit lebih dari 80.000 ton CPO per tahun.
“Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik. Dengan begitu, penghasilan Bapak Ibu juga akan semakin membaik,” katanya saat sambutan sebelum membuka pelatihan, pada Selasa (8 September 2026).
Sri Herlin menilai panen dan pascapanen sangat menentukan kualitas hasil kebun. Kesalahan menentukan kematangan, teknik panen, maupun penanganan TBS dapat menyebabkan kehilangan hasil dan menurunkan nilai ekonomi.
“Pelatihan ini mahal. Kita sendiri di provinsi atau daerah tidak sanggup melaksanakan pelatihan seperti ini. Jadi manfaatkan sebaik-baiknya, timba ilmu sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Jangan Hanya Bisa Memanen
Praktisi Kebun AKPY, Ir. Hartono, M.Si., menegaskan bahwa memanen sawit bukan sekadar memotong TBS. Pekebun harus memahami waktu panen yang tepat dan menjaga kualitas buah hingga sampai ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Menurut Hartono, buah yang mulai mengeluarkan brondolan menjadi salah satu indikator kematangan. Pada fase tersebut, pembentukan minyak telah optimal. Sebaliknya, buah matang yang terlalu lama dibiarkan di kebun tidak meningkatkan pembentukan minyak, tetapi kadar asam lemak bebas (ALB) terus meningkat.
“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” ujarnya.
Rotasi panen juga perlu dijaga agar buah tidak dipanen terlalu muda atau terlambat. Hartono mencontohkan sistem rotasi 6/7 yang digunakan di perkebunan besar untuk menjaga tingkat kematangan buah.
“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” katanya.
Penanganan pascapanen juga harus diperhatikan. Brondolan perlu dikumpulkan dengan baik, TBS segera ditangani dan diangkut, serta ketertelusurannya dijaga hingga ke PKS. Kesalahan dalam rantai tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil dan menurunkan kualitas TBS.
SDM Jadi Modal Pekebun
Hartono mengatakan peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan luas lahan, bibit unggul, dan pupuk. Kompetensi pekebun menjadi modal penting agar teknologi dan praktik perkebunan dapat diterapkan secara tepat.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” katanya.
Ia menilai pengalaman pekebun tetap penting, tetapi perlu dipadukan dengan pengetahuan dan teknologi baru.
“Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, mengatakan peningkatan SDM melalui pelatihan harus menghasilkan perubahan praktik di kebun.
“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik. Tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen. Setelah mengikuti pelatihan ini, mari kita lakukan cara dan waktu panen yang terbaik sehingga rendemen bisa mencapai tingkat yang tinggi,” katanya.
Sebanyak 115 peserta yang terbagi dalam empat kelas diharapkan menjadi contoh bagi pekebun lainnya. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan ditularkan kepada pekebun yang belum mengikuti pelatihan.
“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri. Transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan, karena pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan kebun sawit,” tutur Binagransyah.
Melalui Pelatihan SDMP 2026, peningkatan kapasitas SDM diharapkan mendorong perubahan praktik mulai dari panen hingga pengangkutan TBS. Dengan kualitas buah yang terjaga, rendemen diharapkan meningkat dan memberikan nilai ekonomi lebih baik bagi pekebun Bengkulu Selatan.
Hartono menegaskan, investasi pada SDM merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sawit rakyat.
“Keberhasilan kebun tidak semata-mata ditentukan luas lahan yang dimiliki. Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar,” pungkasnya.














