Palu, SAWIT INDONESIA – Di tengah tantangan produktivitas kebun rakyat, tuntutan keberlanjutan, hingga pesatnya perkembangan industri pertambangan di Morowali, investasi terbesar bagi masa depan perkebunan kelapa sawit bukan lagi sekadar pupuk, alat, atau teknologi. Yang paling menentukan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola kebun.
Pesan tersebut mengemuka dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit dan Sarana Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) di salah satu hotel di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa masa depan industri sawit Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas petaninya. Menurutnya, investasi terbaik yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pekebun agar mampu mengelola kebun secara produktif, efisien, dan berkelanjutan.
"Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Yang paling menentukan adalah kualitas manusianya, kualitas petaninya," tegas Dr. Idum saat sambutan di acara pembukaan pelatihan petani sawit program SDMP 2026 di Palu, pada Senin (6 Juli 2026).
Melalui program ini, AKPY melatih 119 peserta, terdiri atas 84 peserta dari Kabupaten Morowali yang mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit dan 35 peserta dari Kabupaten Morowali Utara yang mengikuti pelatihan sarana dan prasarana perkebunan. Materi yang diberikan mencakup penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pemupukan, pemeliharaan tanaman, konservasi tanah dan air, hingga pengelolaan infrastruktur kebun yang mendukung peningkatan produktivitas.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Neng, menilai penguatan SDM menjadi langkah strategis agar pekebun tetap memiliki daya saing di tengah berkembangnya kawasan industri dan hilirisasi nikel di Morowali. Menurutnya, pembangunan perkebunan kini tidak lagi berorientasi pada perluasan lahan, tetapi pada peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan.
Ia mengapresiasi semangat para peserta yang memilih terus mengembangkan usaha perkebunan sawit meski daerahnya menawarkan banyak peluang kerja di sektor pertambangan. "Pelatihan seperti ini menjadi bekal penting agar pekebun mampu menghadapi tantangan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan," ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Morowali Utara, Krispen H. Masu. Ia mengatakan peningkatan kapasitas pekebun merupakan investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, pembangunan sektor sawit tidak boleh hanya bertumpu pada perusahaan, tetapi juga harus didukung oleh pekebun rakyat yang memiliki kompetensi dan daya saing.
Sementara, pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Peternakan dan Perkebunan - Dinas Pertanian Kabupaten Morowali, Awalludin Nunu, berharap ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang kelas. Ia mendorong adanya pendampingan berkelanjutan agar praktik budidaya yang dipelajari benar-benar diterapkan di lapangan dan berdampak pada peningkatan produktivitas kebun.
Kolaborasi BPDP, AKPY, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten tersebut menunjukkan bahwa pembangunan perkebunan sawit tidak cukup hanya mengandalkan investasi fisik. Penguatan kapasitas manusia menjadi fondasi utama untuk melahirkan pekebun yang profesional, adaptif terhadap perubahan, serta mampu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat di masa depan.














