Banjarbaru, SAWIT INDONESIA – Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) mengajak pekebun sawit rakyat mulai meninggalkan pola budidaya yang terlalu bergantung pada pupuk kimia dan herbisida. Melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026, peserta didorong menjadi pelopor perubahan menuju pengelolaan kebun yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan dengan mengutamakan kesehatan tanah.
Pesan tersebut disampaikan Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, SP., MP., saat menutup rangkaian pelatihan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (2/7). Pelatihan ini diikuti 118 peserta asal Kabupaten Tanah Bumbu yang terdiri atas pekebun sawit, penyuluh, dan aparatur sipil negara (ASN).
Menurut Dr. Sri Gunawan, tantangan industri sawit ke depan menuntut perubahan paradigma dalam mengelola kebun. Selama ini, banyak pekebun masih berorientasi pada peningkatan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk kimia. Padahal, yang jauh lebih penting adalah menjaga kesehatan tanah agar mampu mendukung produktivitas tanaman secara berkelanjutan.
"Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organisme lainnya yang mampu menyediakan unsur hara secara alami," ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi penambahan bahan organik dalam jangka panjang menyebabkan mikroorganisme tanah mati. Akibatnya, struktur tanah menjadi keras, kemampuan menyediakan unsur hara menurun, dan tanaman sawit semakin bergantung pada pupuk kimia.
Kondisi tersebut juga membuat pelepah sawit yang dipangkas sulit terurai karena proses dekomposisi tidak lagi berlangsung secara alami. Dampaknya, kebutuhan pupuk terus meningkat hanya untuk mempertahankan produktivitas tanaman.
Karena itu, menjaga kesehatan tanah dinilai menjadi kunci meningkatkan efisiensi pemupukan sekaligus menjaga produktivitas kebun.
"Kalau tanahnya sehat, pupuk menjadi lebih efisien. Tidak perlu selalu menggunakan dosis tinggi, tetapi produktivitas tetap bisa meningkat karena tanah bekerja secara alami," katanya.
Dr. Sri Gunawan mencontohkan ekosistem hutan yang mampu menopang pertumbuhan pohon-pohon besar tanpa pemupukan karena memiliki kandungan bahan organik tinggi dan kehidupan mikroorganisme yang tetap terjaga.
Ia pun mendorong pekebun memanfaatkan berbagai sumber bahan organik yang tersedia di kebun, seperti janjang kosong, pelepah sawit, tanaman penutup tanah, limbah cair pabrik kelapa sawit (POME), maupun limbah padat (solid). Menurutnya, bahan-bahan tersebut mampu memperbaiki kualitas tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
"Perubahan paradigma ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tuntutan pasar terhadap praktik perkebunan sawit berkelanjutan," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa perkebunan sawit yang masih mengandalkan herbisida dan pupuk kimia secara berlebihan berpotensi menghadapi tantangan pasar pada masa mendatang.
"Paradigma mengelola kebun sawit harus berubah. Kalau masih mengandalkan herbisida dan pupuk kimia semata, ke depan bisa tertinggal. Bukan tidak mungkin hasil kebun akan sulit diterima pasar karena tuntutan terhadap praktik budidaya yang ramah lingkungan semakin tinggi," ujarnya.
Pekebun memiliki peran strategis
Pada kesempatan tersebut, Dr. Sri Gunawan juga menyampaikan pesan khusus kepada 84 peserta Kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit, yang sebagian besar merupakan pekebun swadaya. Ia menegaskan bahwa para pekebun memiliki peran paling strategis dalam mewujudkan perubahan karena mereka merupakan pelaku utama yang langsung mengelola kebun.
Ia meminta para peserta tidak hanya berhenti pada pemahaman teori, tetapi segera menerapkan ilmu yang diperoleh dengan memperbaiki kesehatan tanah, memanfaatkan bahan organik yang tersedia di kebun, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia dan herbisida secara bertahap.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas kebun, tetapi juga memperkuat daya saing sawit rakyat dalam menghadapi tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan.
"Jadilah contoh di lingkungan masing-masing. Tunjukkan bahwa sawit rakyat mampu dikelola secara lebih baik, lebih efisien, dan lebih ramah lingkungan. Ketika bapak dan ibu berhasil menerapkannya, petani lain akan mengikuti," pesannya.
Selain pekebun, Dr. Sri Gunawan juga mengajak penyuluh dan ASN menjadi agen penyebaran pengetahuan sekaligus pendamping di lapangan agar praktik budidaya berkelanjutan dapat diadopsi lebih luas oleh pekebun di Kabupaten Tanah Bumbu.
Ia juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan Program Pengembangan SDM Perkebunan yang didukung BPDP untuk memperluas pelatihan, khususnya terkait pengelolaan bahan organik. Menurutnya, sejumlah daerah sentra sawit seperti Sumatera Selatan dan Riau telah memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat keberlanjutan perkebunan rakyat.
Melalui pelatihan ini, AKPY berharap seluruh peserta tidak hanya membawa pulang pengetahuan baru, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di daerah masing-masing. Dengan semakin banyak pekebun yang menerapkan budidaya sawit berkelanjutan, produktivitas kebun rakyat diharapkan meningkat sekaligus mampu menjawab tuntutan pasar global terhadap sawit yang dikelola secara bertanggung jawab.














