Volvo CE telah memenuhi aturan B50 di Indonesia

Volvo Construction Equipment telah mengimplementasikan konsep kandungan 50% biodiesel di semua mesin buatannya, setahun sebelum program mandatori B50 diterapkan di nusantara.

Volvo Construction Equipment (Volvo CE) menjadi perusahaan alat berat pertama yang memastikan mesin dan sistem bahan bakarnya dapat bekerja dengan campuran 50% biodiesel pada minyak solar. Dilansir dari Jakarta Post, pada pertengahan 2019, Presiden Indonesia, Joko Widodo, menginginkan adanya peningkatan dalam penggunaan biodiesel dari 20 persen ke 30 persen mulai Januari 2020 dan mencapai 50 persen pada akhir 2020.

Pemerintah Indonesia telah memerintahkan penggunaan B20 pada akhir 2018 yang mewajibkan penggunaan campuran 20% biodiesel di solar. Kemudian pada Januari 2020, pemerintah rencananya akan mengamanatkan penggunaan B30 dan diharapkan dapat memperkenalkan amanat penggunaan B50 di akhir tahun 2020.

Baca Juga :   Fakta Dialog: Pengelolaan Gambut Indonesia Lebih Bagus Dari Eropa

“Volvo memiliki warisan untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan dan kami bangga dapat memelopori program B50 setahun lebih cepat,” jelas Gerrit Lambert selaku direktur Volvo CE Indonesia. “Program tersebut sejalan dengan nilai utama perusahaan Volvo dan tentu mampu mengurangi emisi yang dihasilkan oleh peralatan industri.”

Volvo CE merupakan pelopor manufaktur yang mengembangkan teknologi ramah lingkungan. Sejak 1999, mesin-mesin buatan mereka telah sesuai dengan bahan bakar terbarukan.

“Pemakaian biodiesel dengan persentase yang lebih tinggi tidak akan mempengaruhi performa mesin Volvo CE. Interval perawatan dan servis tetap dapat terjaga dengan baik,” ujar Nino Putra, direktur layanan purnajual dan solusi pelanggan untuk Volvo CE Indonesia.

Baca Juga :   Quick Truck,Transportasi Buah Lebih Cepat dan Mudah

Begitu menggunakan biodiesel 50%, mesin segera membutuhkan program pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kesesuaian dengan tingkat biodiesel tersebut. Jika tidak memenuhi standar kualitas yang ditentukan, interval perawatan akan menjadi lebih pendek dan dibutuhkan pemeriksaan secara berkala.

“Biodiesel lebih sensitif terkontaminasi bakteri dan air dibandingkan dengan bahan bakar diesel distilasi. Pemeriksaan perawatan secara berkala menjadi hal vital untuk memastikan uptime yang optimal,” tambah Nino.

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like