Sawit Masa Depan Energi Terbarukan

Dalam pandangan Tatang H.Soerawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI), energi yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia yaitu listrik dan bahan bakar liquid berkualitas tinggi.

Tatang Soerawidjaja menuturkan bahan bakar cair mempunyai keunggulan di antaranya mudah disimpan secara mudah dan aman untuk jangka waktu lama, mudah diangkut, memiliki kerapatan energi besar dan relatif mudah dinyalakan tetapi tidak mudah meledak.

“Selain itu, minyak bumi dan BBM juga mempunyai peran penting bagi perekonomian. Dan, minyak bumi telah menjadi sumber primer pada sistem energi dunia selama hampir 100 abad (di abad 20),” ujar Tatang, saat menjadi pembicara Kuliah Umum, “Status Terkini Pengembangan Biofuel dari Minyak Sawit dan Minyak Inti Sawit”, pada Rabu (10 April 2019), di Bogor.

Seperti diketahui, minyak kelapa sawit mempunyai potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan pemanfaatannya. Salah satunya dimanfaatkan untuk campuran solar (Biodiesel) atau B20 bahkan sudah menjadi mandatory oleh pemerintah sejak September 2018.

Selain dapat mengurangi angka impor minyak fosil, pemanfaatan minyak sawit (nabati) juga dapat defisit neraca perdagangan Negara. Jika melihat ke belakang, Indonesia memang pernah menjadi negara pengekspor minyak bumi sehingga masuk menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun, sejak 2008 Indonesia memutuskan non-aktif dari keanggotaan OPEC karena sudah tak mampu lagi mengekspor minyak mentah (fosil).

Kendati sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak mentah (fosil), tetapi Indonesia masih memiliki minyak sawit bahkan saat ini menjadi produsen terbesar di dunia. Minyak sawit (nabati) yang mempunyai beragam potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan energi.

Terkait dengan potensi kelapa sawit yang dikembangkan untuk energi baru terbarukan, Darmono Taniwiryono, Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) mengutarakan saat ini sudah berkembang Bahan Bakar Minyak (BBM) nabati cair dari minyak sawit. CPO bisa diolah  menjadi green gasoline, green diesel, dan green avtur. Berbeda dengan Biodiesel (sawit) yang selama ini dikenal oleh masyarakat.

“Supaya masyarakat memahami dan mempunyai persepsi yang sama tentang potensi minyak sawit sebagai bahan bakar nabati,” jelas Darmono.

Selanjutnya, Tatang menambahkan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel terbagi menjadi dua kelompok yaitu tipe oksigenat (Biodiesel atau FAME, Fatty Acids Methyl Ester), Bioetanol dan tipe drop-in (biohidrokarbon) yaitu dapat dikembangkan menjadi Bio-Hydrofined (BHD) atau Green diesel, Biogasoline atau Green gasoline (bensin nabati), dan Bioavtur atau Jet Biofuel.

Bahan Bakar Nabati (BBN) Oksigenat, Biodiesel dibuat dengan proses metanolisis minyak-lemak oleh metanol dan gliserol. Minyak nabati (sawit) merupakan bahan mentah untuk BBN terbaik karena kadar asam-asam lemak jenuh dan kadar asam oleat berimbang, kadar asam-asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) minimal.

BBN Oksigenat seperti biodiesel generasi 1 (FAME) dan Bioetanol hanya bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya sampai kadar 10 – 30%. Bagi Indonesia, ini sangat membantu mengurangi peningkatan impor solar dan bensin, namun hanya 10 – 30%. sisanya tetap impor dan menyebabkan tekanan berat terhadap neraca pembayaran negara.

11 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like