BATANGHARI, SAWIT INDONESIA – PT Nusantara Green Energy menghasilkan inovasi produk Premium Palm Oil atau minyak makan sehat yang dapat mencegah stunting dan meningkatkan vitamin A. Sahat Sinaga, Direktur Utama PT Nusantara Green Energy mengatakan bahwa pabrik PT Nusantara Green Energy akan menghasilkan Premium Palm Oil punya kualitas yang lebih prima dibandingkan dengan minyak sawit konvensional dikenal sebagai CPO (Crude Palm Oil). Produk ini mempunyai kandungan nutrisi lebih tinggi seperti Carotenoids, Total Vitamin E & Squalene yang utuh, jumlahnya lebih banyak dan stabil (tahan terhadap oksidasi).

Pembangunan pabrik sawit berteknologi SPOT & IRU akan melibatkan koperasi petani sawit untuk mendukung pasokan buah sawit setiap harinya. Kapasitas olah pabrik sebesar 10 Ton  TBS per jam akan memerlukan investasi sebesar Rp 20 miliar-Rp 25 miliar.  Kegiatan pembangunan pilot-plant ini diperkirakan  perlu waktu 8 bulan, mulai dari Agustus 2022 sampai April 2023  dan maksimum sudah beroperasi di September 2023.

Setelah siap beroperasi dan  hasilnya optimal, baru  akan dibentuk perusahaan baru, joint venture  Koperasi Petani Sawit  sekitar SPOT & IRU dengan cakupan  areal kebun sawit sekitar 3.500 Ha dengan  PT NGE, bergabung jadi suatu  entitas.

Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan RI mengharapkan produk premium palm oil yang dihasilkan perusahaan dapat membantu ketersediaan minyak makan di dalam negeri. Teknologi yang dimiliki PT Nusantara Green Energy akan membantu setiap kabupaten untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng.

“Jadi tidak perlu lagi membeli minyak goreng yang diproduksi dari Pulau Jawa. Karena dapat diproduksi di Kabupaten seperti Batanghari ini,” ujarnya dalam peletakan batu pertama pembangunan Pabrik Minyak Sawit Tanpa Uap PT Nusantara Green Energy, Selasa (2 Agustus 2022).

Kegiatan peletakan batu pertama ini dihadiri pula oleh Gubernur Jambi Al Haris, Wakil Bupati Batanghari Bakhtiar, Komisaris Utama PT Nusantara Green Energy Bambang Brodjonegoro, serta perwakilan dari Kementerian Perindustrian. Turut mendampingi Mendag Zulkifli Hasan yaitu Sekretaris Jenderal Kemendag Suhanto dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi.

 

Wakil Direktur Utama Nusantara Green Energi Petrus Chandra menjelaskan, selama ini pabrik sawit konvensional menggunakan uap dalam proses pengolahan minyak sawit. tetapi dengan teknologi wet-process tidak lagi membutuhkan air dalam volume banyak.

Selain itu teknologi wet-process, kapasitas pabrik pengolahan minyak sawit dapat berukuran lebih kecil menjadi 5 atau 10 ton dari ukuran biasa mencapai 30 ton, 45 ton, dan 60 ton.

Sahat menjelaskan bahwa pabrik sawit berteknologi SPOT&IRU ini berbeda dengan teknologi pabrik pengolahan buah sawit pada umumnya yag menggunakan wet-process. Teknologi wet-process  pengolahan buah sawit diperkenalkan oleh  negara-negara Barat semenjak 1922 Teknik pengolahan  Tbs itu dengan wet-process yaitu pola sterilisasi – steam pressure di tekanan 3 bar ( 142 -145 der C) untuk mendapatkan minyak sawit dan katanya  juga untuk ” mematikan aktivitas enzyme Lipase” yang aktif meningkatkan level ALB  di CPO.

Kegiatan penelitian teknologi SPOT&IRU telah berjalan semenjak 2018 – 2020 secara laboratorium – oleh PT Agro Investama. Hasil riset menunjukkan Teknologi SPOT&IRU ini menunjukkan bahwa biaya proses produksi PPO itu lebih efisien dan  biaya produksi lebih ekonomis, karena pemakaian energi lebih sedikit. Manfaat lainnya adalah tingkat kehilangan minyak (oil losses) juga lebih rendah sehingga dapat meningkatkan OER  PMTU ( Pabrik  Minyak Sawit Tanpa Uap)  ini.

Share.