Penerimaan Pajak Industri Pengolahan Capai Rp 64,06 Triliun

JAKARTA, SAWIT INDONESIA –  Kementerian Keuangan (Kemenkeu RI) mencatat hingga 31 Maret 2020 penerimaan pajak yang sudah tercatat sebesar Rp241,6 triliun. Penerimaan ini sudah mencapai 14,7% dari target APBN 2020, namun penerimaan ini mengalami negative growth jika dibandingkan dengan penerimaan yoy tahun lalu.

Jika dilihat dari penerimaan per sektor usaha, sektor industri pengolahan tumbuh sangat baik namun sektor-sektor lain cenderung tertekan.

“Kontribusi sektor industri pengolahan sebesar 27,5% atau kita kumpulkan Rp64,06 triliun dan ini tumbuh 6%. (pertumbuhan) ini mungkin menimbulkan sedikit optimisme,” jelas Menkeu di Konferensi Pers APBN KiTa, Jumat (17/04) di Jakarta secara virtual, seperti dilansir dari laman Kemenkeu RI.

Baca Juga :   Penerimaan Pajak Dari Sawit Lebih Rp 20 T/Tahun

Walaupun kontribusinya cukup besar, Menkeu memberi catatan kalau pertumbuhan ini ada faktor restitusi yang tidak mengalami pertumbuhan seperti tahun lalu. Kalau dilihat dari PMI manufaktur mengalami penurunan, maka sektor industry pengolahan harus terus diwaspadai karena tren ini mungkin akan mengalami tekanan.

Dari sektor perdagangan terkum,pul sebesar Rp52,76 triliun atau berkontribusi sebesar 22,7% terhadap penerimaan pajak nasional. Capaian ini menurut Menkeu karena adanya perlambatan impor dan masih ada restitusi.

“(Sektor) Jasa keuangan yang selama ini selalu memberikan pertumbuhan positif dobel digit, sampai dengan maret masih positif growth namun sudah sangat turun pertumbuhannya, hanya 2,7%. Ini karena setoran PPh badan dikoreksi akibat adanya selisih kurs,” jelasnya.

Baca Juga :   Menteri PPN/Bappenas: Sawit Penyumbang Devisa Nomor Satu RI, Kalahkan Pariwisata dan Migas

Untuk sektor konstruksi dan real estate yang dapat dikumpulkan sebesar Rp16,02 triliun 6,9% dari penerimaan pajak.

Sektor yang perlu diwaspadai akibat adanya COVID-19, tukas Menkeu adalah sektor transportasi dan pergudangan. Sejak Maret sektor ini tercatat penurunan kontribusinya terhadap penerimaan pajak. Kontribusinya hanya dapat mencapai 5,4% atau sebesar Rp11,96 triliun.

“Tekanan terhadap penggunaan transportasi darat, laut, udara yang terjadi sejak Maret langsung  menurunkan kontribusinya terhadap pajak. Selama beberapa tahun terakhir sektor ini selalu dobel digit bahkan di atas belasan. Karena dengan perkembangan digital mereka adalah sektor yang paling besar mendapatkan manfaat. Namun dalam bulan Maret ini kita merekam sektor ini hanya tumbuh 0,9%,” ungkapnya.

Baca Juga :   ANJ Raih Penghargaan Pembayar Pajak Paling Patuh

Terakhir, sektor pertambangan yang memberi kontribusi paling kecil yaitu 3,4% atau hanya Rp7,98 triliun, tutur Menkeu. Ini hanya meneruskan tren dari tahun lalu. Selain harga tambang yang mengalami pelemahan, produksinya pun juga turun.

 

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like