1. Latar Belakang

Tepatnya, sebelum terbit Undang-Undang Republik Indonesia, No. 17 Tahun 2004, Tentang: Pengesahan Kyoto Protocol To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Perubahan Iklim), di mana pengelolaan jankos di PKS dilakukan dengan membakarnya di dalam suatu peralatan yang disebut dengan incinerator

Jankos hasil pemipilan dari peralatan threser dimasukkan ke dalam incinerator melalui screw conveyor dan selanjutnya mengalami proses pembakaran.  Pembakaran merupakan proses anexothermix antara oksigen (dalam jumlah yang cukup) dengan hidrokarbon yang berasal dari biomassa.  Hasil reaksi pembakaran biomassa tersebut menghasilkan gas CO2 dan H2O sebesar 90% energy panas dari biomassa yang dibakar (Sumber: Prabu, 2008).  Gas CO2dan H2O dibuang ke udara melalui cerobong incinerator.

 

Gas CO2 merupakan penyumbang terbesar dalam proses efek rumah kaca (global warming).  Gas karbondioksida berkemampuan untuk menyerap energi panas dari matahari secara radiasi dan dipancarkan kembali ke bumi.  Hal ini berdampak kepada peningkatan suhu atmosfir dan perubahan iklim (Sumber: Undang-Undang No. 17, 2004).  Dampak dari pembakaran biomassa (jankos) ini telah menimbulkan issue lingkungan hidup sehingga keberadaan incinerator sebagai alat pembakaran biomassa jankos harus dihentikan.  Hal ini membuat para pengelola PKS mencari alternative lain. Keberadaan jankos 200 (dua ratus) ton dalam sehari merupakan jumlah yang besar.  Jika tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan penumpukan (sehingga memerlukan areal yang khusus) dan berdampak kepada estetika. 

Setelah peralatan incinerator tidak beroperasi lagi maka pengelolaan jankos didistribusikan ke areal tanaman kelapa sawit yang berfungsi sebagai penambah nutrisi bagi tanaman sawitnya.  Pendistribusian jankos ini ke areal tanaman sawit sudah pasti menambah biaya operasional PKS,  yaitu: diperlukan biaya transportasi untuk pengangkutan jankos ke areal tanaman/kebun sawit dan biaya pendistribusian/peletakan jankos di piringan tanaman kelapa sawit.

2.         Pemanfaatan Teknologi Combustion (Pembakaran) dan Pirolisa

Proses pembakaran adalah suatu proses reaksi kimia sistem eksotermis yang membutuhkan udara.  Kesempurnaan reaksi kimia dalam proses pembakaran ini sangat tergantung kepada kecukupan udara/oksigen.  Untuk mengoperasikan kembali incinerator ini diperlukan tambahan teknologi, yaitu: pirolisa di mana gas yang dibuang ke udara (emisi udara) harus dikelola menjadi kondensat (asap cair).  Asap cair ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti: pupuk organik, penggumpalan lateks, dan lain-lain.  Jika hanya menggunakan teknologi pirolisa saja maka proses pengolahannya berlangsung lama, karena proses pirolisa berlangsung dalam keadaan tanpa oksigen (pengasapan saja).  Di samping itu, hasil proses pirolisa, yaitu: arang/abu yang terbentuk dari proses pembakarannya dapat juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik. 

 

Gambar Aliran Proses Pembakaran dan Pirolisa Jankos

Agar proses pembakaran jankos dalam incinerator  berlangsung efektif dan efisien maka diperlukan kombinasi teknologi antara proses pembakaran (combustion) dan pirolisa (pyrolysa).

3.         Proses Pembakaran Jankos

Pembakaran merupakan suatu proses yang sudah lama dikenal, yaitu: pemanfaatan biomassa atau fosil sebagai bahan baku untuk proses pembakarannya.

a.   Screw Feeder (Distribusi Conveyor)

Screw feeder suatu peralatan jenis conveyor(ban berjalan) yang berfungsi sebagai pendistribusi janjangan kosong/jankos dari hopper dari proses pengolahan tandan buah segar sawit (TBS).  Jankos yang didistribusikan ke dalam furnace secara terus menerus sehingga jumlah jankos yang berasal dari PKS selalu dalamkeadaan habis.

b.   Tungku Pembakaran

Proses pembakaran jankos berlangsung di dalam furnace.  Suhu pembakaran berlangsung sekitar 250 °C.  Ketika terjadinya proses pembakaran maka jankos terurai menjadi senyawa-senyawa kimia dalam fase gas.  Reaksi kimia yang paling popular terjadi, sebagai berikut.

                        CH4     +          O2                      CO2       +          H2O  (energi panas)

Gas metana (CH4) yang terdapat di dalam jankos dengan bantuan udara (O2) berlebih akan terurai menjadi karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O).  Gas-gas yang terbentuk ini nantinya dalam proses gas condenser akan berubah fasenya menjadi cairan yang ditampung di sorage (bio oil storage).  Suhu pembakaran di furnace sekitar 280 °C. 

c.   Pipa Instalasi

Pipa instalasi berfungsi untuk mendistribusikan uap panas dari tungku pembakaran ke gas condenser, sementara partikel-partikel padat akan terdistribusi ke cyclone.

d.   Gas Condensor

Gas condenser merupakan gas yang belum mengalami proses pendinginan sempurna yang ingin dirubah fasenya menjadi cairan (bio oil).  Gas condenser terdiri dari pipa pendingin dan bak condenser.  Media pendingin yang digunakan harus bersuhu lebih rendah, seperti: air dingin.

e.   Bak Condensor

Bak condenser berfungsi untuk menampung bio oil yang sudah mengalami proses kondensasi dan pendinginan.  Bio oil yang dihasilkan merupakan produk dari proses pembakaran dengan kombinasi pirolisa dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain:

1.   Sebagai pengawet makanan

2.   Bioinsektisida

3.   Penggumpal lateks

4.   Sebagai bahan bakar

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 125)

Share.