Bersyukur. Apapun alasannya, jika mau jujur yang paling harus bersyukur adalah petani sawit. Secara empiris umumnya petani sawit dapat omset dan laba sehat. Dibandingkan petani lainnya. Sikap rasa syukur inilah sumber kekuatan untuk tahu diri dan sekaligus makin berusaha lebih berprestasi lagi

Peluang pada 2022, harga sawit saya prediksi masih akan tinggi. Karena berbagai portofolio pembentuknya. Misal perubahan iklim menjadikan potensi jumlah produksi tidak jauh beda dari tahun 2021. Sisilain, perluasan pasar berkat inovasi manfaat sawit jadi permintaan baru.

Kebijakan Presiden Joko Widodo berkaitan hilirisasi bioenergi sawit secara total serius dijalankan seperti peningkatan dari program B30 ke B40 dan Bensin Sawit. Seluruh kebijakan ini sangat strategis karena menciptakan pasar baru yang mampu menyerap CPO sekitar 9,6 juta KL.  Diprediksi tahun 2022 akan menyerap CPO hingga 15 juta KL. Setara hasil dari kebun sawit seluas 4,5 juta ha. Ditambah rencana penghentian sementara ekspor CPO.

Jadi, rencana penghentian ekspor CPO ini juga sangat bagus. Agar ekspornya wujud barang jadi misal pangan, energi, kosmetik dan farmasi produk turunan sawit. Sehingga indeks kompleksitas ekonomi makin tinggi setidaknya tercipta lapangan kerja baru jumlah besar dinikmati masyarakat luas non petani sawit. Ini jadi komunitas baru pecinta sawit kedepan agar makin berkelanjutan.

Ancaman. Tapi tahun 2022 juga akan makin tinggi harga pokok produksi (HPP) nya. Jumlah biaya dibagi, oleh jumlah volume produksi = HPP. Akibat dari biaya dominanya itu pupuk 40% dari total biaya produksi harganya melambung tinggi. Saat harga jual naik, HPP naik maka  profit margin tetap. Ini harus dipahami petani.

Sekilas agar kita bisa memahami bahwa makin mahalnya pupuk dan herbisida kimia. Tidak lepas dari dampak pandemi covid 19. Di seluruh dunia pekerjaan usaha terganggu semua. Bahkan ada yang dihentikan lockdown. Termasuk penambangan bahan pupuk anorganik (kimia).

Padahal phospor (P) dan kalium (K) hampir 100% kita impor. Akibat dari bangsa kita tidak punya tambang potensialnya. Begitu juga ongkos kirim impor dari negara asal yang jauh di sana ke Indonesia jadi sebab makin mahalnya pupuk kimia. Karena makin langka kapalnya, berebut dengan komoditaslainnya. Ini ikut mendongkrak harga pupuk impor.

(Selengkpny dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 123)

Share.

Comments are closed.