Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLII)

“Kita coba ke selatan”, kata Mas Djoko, pesawat berputar dan kompas menunjuk angka 18. Yang penting tetap diatas laut dekat ke pantai. Tetap tidak nampak suatu benda yang kami kenal. Hanya pantai dan belukar. Berarti posisi kami bukan diatas areal perkebunan. Dalam keadaan seperti itu, Mas Djoko bertanya kepada saya, “Bagaimana, Pak?”

Walau pun tugas saya penting, keselamatan harus di utamakan. Saya menoleh ke belakang, ke Sutiksno yang juga kelihatan cemas, berseru, “Kita kembali saja, ya!”

Sutiksno mengiyakan saja, lalu saya bilang kepada pilot, “Kita kembali saja”.

“Kembali ke Lae Butar atau ke Medan?” tanya Kapten Djoko meminta kejelasan. Medan berada di sebelah timur, sedangkan Lae Butar di sebelah selatan dari Seunagan.

“Ke Medan”, jawaban saya karena khawatir di Lae Butar cuaca sudah berubah jadi buruk juga. Lagi pula tugas saya di Lae Butar sudah selesai.

Seperti merasa lega, Kapten Djoko mengubah arah pesawat sambil menambah ketinggian. Kelihatan sekali ada rasa gugup yang tiba-tiba terlepas. Saya pandang kompas terlihat angka 9, berarti pesawat langsung mengambil arah timur. Cepat-cepat saya ingatkan Mas Djoko.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like