Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCCXLII)

Departemen Perdagangan juga sudah membahasnya melalui tim, terutama oleh Direktorat Jendral Perdagangan Bilateral dari Departemen Perdagangan. Sudah ada persetujuan untuk bebas untuk bea masuk bagi jeruk kino. Dengan bekal informasi-informasi yang terkumpul  itu saya merasa berani berangkat ke Pakistan untuk memenuhi permintaan para pengusaha Indonesia yang tergabung dalam GIMNI. Jhony Virgo bersama Xavier Francis dari PT. Permata Hijau Sawit meminta saya untuk pergi ke Pakistan karena mereka merasa nama saya lebih dikenal di Pakistan dari pada yang lain.

Saya mengajak juga agar Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI, ikut serta di dalam rombongan. Ketika pihak Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA) menyatakan permintaannya dengan surat, saya mengambil keputusan untuk segera berangkat ke Pakistan. Saya menyarankan kepada Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu untuk turut berangkat ke Pakistan karena saya yakin kehadiran seorang menteri akan sangat memudahkan keberhasilan usulan ini. Tapi saat itu beliau merasa keadaan di Pakistan tidak begitu aman, karena baru saja Benazir Bhutto terbunuh.

Akhirnya kami berangkat tanpa kehadiran menteri. Kami berangkat dengan harapan perundingan-perundingan dapat kami lakukan untuk mendorong agar PTA itu cepat terlaksanakan walaupun kami tahu proses ini haruslah ditempuh melalui jalur resmi pemerintah. Pada saat bersamaan Konsultan Jenderal Indonesia yang berkedudukan di Karachi ingin melaksanakan suatu seminar mengenai perdagangan kelapa sawit, bekerja sama dengan asosiasiperusahaan minyak nabati Pakistan. Pemberian itu saya terima dari Norman Akbar yang bertugas pada bidang ekonomi Konsultan Jendral di Karachi.

Sumber : Derom Bangun                                                                                    

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like