Senyum sumringah menghiasi wajah Rando kala menerima kunjungan Tim Komite Penelitian dan Pengembangan BPDPKS di gudang kelapa sawit miliknya di Desa Alue Papeuen, Kecamatan Nisam Antara Kabupaten Aceh Utara pada Jumat, 22 Juli 2022. Rando tampil dengan kaos lusuh putih bertuliskan “Bank Aceh” yang dipadukan celana ponggol berbahan jeans. Meski berpenampilan apa adanya, ia adalah sosok yang ramah dan sederhana. Selera humornya juga terbilang tinggi. Sikapnya sangat berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang sangar. Jika hanya melihat tampilan luar, siapapun pasti ragu untuk mengatakan bahwa ia adalah salah seorang pemilik lahan perkebunan kelapa sawit terluas di Kabupaten Aceh Utara saat ini.

Kehadiran Tim BPDPKS secara khusus dalam rangka visitasi penelitian model reintegrasi sosial-ekonomi eks kombatan GAM Rimueng Kureung berbasis usaha kelapa sawit yang diketuai  oleh Dr. Nirzalin, M.Si dan tim peneliti dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.

Rando adalah panglima eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang saat ini sudah bertransformasi menjadi salah seorang pengusaha kelapa sawit sukses di Kabupaten Aceh Utara. Pada masa konflik antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka, Rando merupakan  Panglima Pasukan Rimueng Kureng dengan membawahi 60 personil tempur. Kelompok tersebut bertugas mengamankan dan mengawasi wilayah Samudera Pasai (Aceh Utara), mulai dari perbatasan Aceh Timur hingga Wilayah Batee Iliek Kabupaten Bireuen.

Setelah damai bergulir di Aceh, Rando mempelajari berbagai usaha bisnis. Tujuannya kala itu hanya satu, agar dapur rumahnya tetap bisa mengepulkan asap. Di saat teman-teman seperjuangannya memilih menikmati “kue perdamaian” dengan menjadi politisi, kontraktor dan preman politik, Rando justeru menempuh jalan sunyi yang berbeda. Ia pernah bekerja sebagai tukang ojek, pekerja di pabrik batu bata, hingga buruh di kebun orang lain. Akhirnya, pada 2008, ia berani merintis usaha kelapa sawit sendiri dengan hanya bermodalkan uang satu juta rupiah. Modal pas-pasan, Rando cuma mampu membeli lahan seluas 1 Ha di Kawasan Lhok Drien, sebuah daerah perbukitan yang jauh dari pemukiman warga. Sementara untuk bibit, ia memungut bibit liar yang tumbuh di perkebunan orang. Bagi Rando, “yang penting tanam, hasil belakangan; kalau tidak tanam, pasti tidak ada buah”.
Rando sendiri adalah sosok eks kombatan yang memiliki karakter berani, gigeh (pekerja keras), disiplin, dermawan, peduli dengan kondisi sosial masyarakat, dan sederhana. Perawakannya kekar dengan kulit berwarna gelap semakin menegaskan bahwa ia adalah sosok pekerja keras yang terbiasa di bawah terik matahari yang membakar. Berkat kegigihan dan keuletannya, ia mampu menyulap lahan sawit dari awalnya hanya 1 Ha menjadi ± 600 Ha yang tersebar di Kecamatan Nisam dan Nisam Antara Kabupaten Aceh Utara. Rando sangat yakin dengan filosofi sebeudoh (bangkit) sebagai way of life dalam membangun usaha bisnis. Secara sederhana, konsep seubeudoh bermakna usaha mencapai kesusksesan dan kejayaan harus dibarengi dengan usaha yang gigih dan kuat. Ia mengimani betul petuah “perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama”.

Saat ini, Rando memperkerjakan sekitar 60 pekerja aktif untuk keberlangsungan produksi kebunnya. Para pekerja terbagi sebagai tenaga pembersih lahan, penggali lubang, penanam bibit, pemupukan, pembersih rumput dan dahan, pendodosan saat panen, hingga tenaga pengangkut. Para pekerjanya terdiri dari eks kombatan yang dulunya adalah pasukan tempurnya dan masyarakat sipil sekitar perkebunannya yang terdiri dari janda yang ditinggal mati suami di saat konflik mendera Aceh maupun masyarakat sipil biasa. baginya, siapa pun dapat bergabung dengannya selama orang tersebut disiplin dan patuh pada sistem yang ditetapkan.

Ada banyak cerita bergulir di balai kayu berukuran 4 x 3 meter. Bangunan sederhana, tempat biasa pekerja kebun melepas lelah, jadi saksi keintiman tim BPDPKS dan Rando bertukar kisah, juga berbagi pengalaman. Tak jarang, sesekali, gelegar suara tawa terdengar dari para jamaah kala Rando bercerita perjalanan panjang perjuangan hidupnya yang diselingi humor. Duh… sesuatu yang pahit memang akan terasa manis jika terjadi di masa lalu.

Pesan penting BPDPKS untuk Rando, mereformasi sistem manajemen dan tata kelola menjadi penting dilakukan dalam hal optimalisasi pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, kontribusi yang diberikan Rando untuk masyarakat dan kesejahteraan eks kombatan juga akan lebih besar. Pun demikian dengan Rando, harapan terbesarnya adalah ketersediaan pupuk subsidi dan mudah diakses untuk kebutuhan petani kelapa sawit. Di samping juga pendirian pabrik pengolahan kelapa sawit, sehingga dapat memangkas biaya transportasi. Nantinya, ia hanya akan mengirim CPO ke Sumatera Utara, bukan lagi TBS seperti yang dilakukan selama ini. “Kalau pabrik ada di sini, berapa bisa hemat biaya petani untuk ongkos kirim. Disini ada sekitar 8000 Ha luas lahan sawit, kan sudah cocok untuk bangun pabrik…” Tegas Rando.

Dari gudang, Tim BPDPKS bertolak ke kebun Rando yang jaraknya sekitar 30 menit tempuh kendaraan roda empat. Di kebun, masih banyak cerita yang seolah tiada habisnya. Dekapan senja memaksa Tim memohon diri untuk pamit, seiring dengan pamitnya matahari ke peraduan. Pertemuan ini menasbihkan optimisme, melalui kelapa sawit tidak hanya kesejahteraan ekonomi eks kombatan dan masyarakat sipil sekitar perkebunan yang merangkak naik tetapi juga reintegrasi sosial-ekonomi eks kombatan dan masyarakat sipil yang merangkai rajutan perdamaian berkelanjutan di bumi Serambi Mekkah.

Sumber: bpdp.or.id

 

Share.