Kementerian Luar Negeri RI telah menyelenggarakan perayaan ASEM Day untuk memperingati terbentuknya Asia-Europe Meeting pada tahun 1996. Dengan mengangkat tema “Digitalization of MSMEs: Bridging ASEM Economic Recovery During the Pandemic”, perayaan ASEM Day tahun ini dilaksanakan secara virtual dan disiarkan melalui Zoom Webinar.​

Kegiatan webinar dibuka dengan keynote speech oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Duta Besar Ngurah Swajaya. ASEM Day 2022 dipandu oleh Andini Effendi sebagai moderator dan menghadirkan empat pembicara, yaitu: Duta Besar Morikawa Toru (ASEF Executive Director), Duta Besar Lilla Karsay (Duta Besar Hongaria untuk Indonesia), Andreas Ardian Pramaditya (Vice President of Galeri Indonesia, Blibli.com), dan Harry Dimas Priawan (CEO and Co-Founder, Dekoruma.com).

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa menyampaikan pentingnya peran UMKM dalam konteks pemulihan ekonomi setelah pandemi. Dalam hal ini, kondisi pandemi telah mengharuskan UMKM untuk berinovasi dan memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Pada tahun 2030, Indonesia diprediksi akan memiliki 30 juta UMKM. Adanya berbagai digital platform akan menjadi tulang punggung bagi UMKM di Indonesia. Untuk itu, diperlukan peran yang besar dari pemerintah daerah untuk menjamin digitalisasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Duta Besar Morikawa Toru menjelaskan bahwa kehadiran ekonomi digital akan berperan besar dalam konektivitas Asia dan Eropa. Hal ini perlu dijadikan momentum bagi negara- negara di kedua kawasan untuk berkolaborasi dalam menjamin cybersecurity dan pengelolaan data yang transparan, khususnya melalui sharing of technology. Selain itu, e- commerce juga akan membuat Asia dan Eropa semakin terintegrasi. ASEF dan ASEM akan menjadi jembatan bagi kedua kawasan untuk terus melakukan kerja sama.

Duta Besar Lilla Karsay menyampaikan pentingnya infrastruktur digital untuk mengembangkan ekonomi digital dan UMKM. Tidak hanya untuk mengembangkan UMKM, literasi digital juga sangat penting untuk menjamin kualitas sumber daya manusia ke depannya. Kunci dari infrastruktur digital yang baik adalah sinergi dari K/L pemerintah, terutama bagi Indonesia memiliki banyak tantangan geografis sebagai sebuah negara kepulauan. Pengembangan infrastruktur digital juga perlu dilaksanakan dengan inklusif dan merata. Sustainability penting untuk mengintegrasikan pasar Asia dan Eropa. Adanya bantuan transfer of technology dari negara-negara maju di Eropa akan berperan besar dalam kerja sama kedua kawasan.

Andreas Ardian Pramaditya dan Harry Dimas Priawan juga menyampaikan pandangan mereka sebagai digital entrepreneurs. Sebagai langkah ke depannya, pemerintah dapat memfokuskan program-program pelatihan yang membantu para pelaku usaha dalam memanfaatkan kehadiran ekonomi digital. Tidak kalah penting, pelatihan dan pengembangan yang dilakukan perlu dilakukan secara inklusif, dengan menanamkan praktik-praktik yang berkelanjutan di kalangan pelaku usaha Indonesia.

Para narasumber yang hadir sepakat bahwa ASEF dan ASEM dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kerja sama dan kolaborasi antara kedua kawasan mengembangkan ekonomi digital dan UMKM. Hal ini juga sejalan dengan kesepakatan para ASEM Leaders pada KTT ASEM ke-13 pada tahun 2021, yang menyuarakan digital connectivity antara Asia dan Eropa.

Sumber: kemlu.go.id

Share.