Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian LX)

Hasil-hasilnya akan disampaikan kepada berbagai organisasi internasional. Dengan demikan, hasil konferensi ini akan berpengaruh terhadap berbagai kebijakan di seluruh dunia. Ada dua kali sidang pleno dan 22 sidang kelompok. Saya masuk pada sidang kelompok yang membahas soal makanan danenergi yang disebut food against fuel.

Pada sesi food versus fuel itu hadir enam penalis termasuk saya sendiri. Lima yang lain adalah Lester Brown (President dan Pendiri  Earth Policy Intitute), Chris Field (Direktur Departement Global Ekology, Carnegie Intitution of Washington, Amerika Serikat), Alexsander Muler (Assistain General National Resource Management Depertement dari FAO), Stefan Tangerman (Director of the OECD, Director for Food, Agriculture, and Fisheries), dan Wolk Vilaud (Sekretaris Jenderal Europe Association). Acara tersebut dipandu oleh Sars Whierhand, seorang koresponden dari Neue Zurcher Zeitung (NZZ), yaitu surat kabar harian Swiss yang berbahasa Jerman.

Selaku penulis, saya diminta terlebih dahulu menyampaikan pandangan tertulis sebanyak kurang lebih dua halaman yang harus dikirimkan sebelum acara dilaksanakan. Permintaan itu saya penuhi dengan mengirimkan suatu tulisan tentang bagaimana menurut pandangan saya peranan kelapa sawit itu. Minyak sawit menurut saya dapat diarahkan untuk memenuhi pangan dunia, khususnya memenuhi kebutuhan lemak pangan diseluruh dunia dan juga sebagian untuk memenuhi kebutuhan bahanbakar di Indonesia. Saat itu saya uraikan bahwa di Indonesia kebutuhan antara pangan dan bahan bakar sering dirasakan sama pentingnya, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga dipedesaan atau daerah-daerah yang tidak mungkin menggunakan tenaga listrik.

Kisah ini sengaja saya utarakan dalam berbagai forum diluar negeri untuk memberikan pengertian kepada publik Barat yang terkadang kurang lengkap pemahamannya pada soal-soal kehidupan di negara berkembang seperti Indonesia. Saya katakan waktu itu, kendati ibu-ibu di Indonesia mempunyai beras, belum tentu beras itu dapat dimasak untuk makan anak-anaknyatanpa bahan bakar. Bahan bakar dari kayu sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, mereka harus memasak dengan mengunakan minyak tanah yang disubsidi pemerintah.

Sumber : Derom Bangun

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like