Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXXIV)

Menjalankan usaha di bidang kebun tidaklah semudah yang dibayangkan. Tapi akan lebih baik jika kita melakukannya dengan memperhatikan aspek-aspek sosial yang ada disekitar wilayah perkebunan, semisal menyelesaikan baik-baik sengketa tanah, meraih hati penduduk dengan mendengarkan aspirasi mereka pada perkebunan, dan sebisa mungkin mengindahkan aspek lingkungan dalam pengelolaan kebun.

MENJADI KONSULTAN

Ketika saya masih bekerja di Socfindo, sudah banyak orang meminta konsultasi kepada saya. Peranan sebagai konsultan pertama kali saya lakukan pada tahun 1974 untuk satu perusahaan swasta di Kabupaten Asahan, yaitu PT. Kwala Gunung. Perusahaan ini sedang memohon kredit dari Bank Ekspor Impor untuk perkebunan dan pendirian pabriknya dan membutuhkan studi kelayakan suapaya mendapatkan persetujuan dari Derektorat Perkebunan Departemen Pertanian agar bank pemerintah sebagai bank pelaksana dapat memenuhi kredit yang dimohon.

Ketika itu belum banyak konsultan untuk perkebunan kelapa sawit, apalagi yang mampu menganalisis kelayakan pendirian pabrik. Selain kelayakan dari segi keuangan, aspek teknis menjadi pertimbangan yang sangat penting. Tba-tiba saja pengusaha itu datang berkunjung ke kediaman saya. Rupanya dia adalah pemilik beberapa usaha di Medan dan dulunya pengusaha sebuah kedai kopi di Berastagi. Seperti kebanyakan warga Tionghoa di Berastagi, dia dapat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Karo. Sebagai penganti kata bapak atau anda atau you, dia menggunakan kata kam yang sangat disukai oleh warga masyarakat Karo. Saya pun membantunya.

Sumber : Derom Bangun

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like