Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCIX)

Metalan setelah dipas sekitar pukul tiga pagi. Saya terus menunggui sambil minum kopi dan memberikan semangat. Sekarang masuk tahap pemasangan. Ini sudah gampang dan hanya perlu satu-dua jam, termasuk mengisikan minyak pelumas. Untuk menghidupkan mesin Corliss ini bukan tenaga batrai atau aki yang dipakai, tetapi tekanan angin yang berasal dari kompresor. Saya minta mereka untuk memeriksanya. Ternyata tekanan udara dalam bejana (disebut botol angin) juga cukup. Saya merasa masih bersemangat ketika semua persiapan sudah rampung walaupun belum tidur sepanjang malam.

Pukul lima pagi saya menghubungi P.I. Hutabarat melalui telepon. Belakangan saya tahu nama lengkapnya adalah Pontas Lodewijk HutBrT. Tuan besar juga selalu bangun pagi. Itu berlaku diseluruh perkebunan Socfin. Termasuk para asistennya, seperti Sultan Marulam Manurung yang bertugas di afdeling Aek Nabuntu yang terpencil. Apa lagi kebun karet yang pada masa itu mempraktikan deres subuh untuk meningkatkan produksi. Dia merasa gembira mendengar laporan saya. “Kalau boleh, Bapak datang untuk memastikan mesin Corliss dihidupkan dan mesin dan pabrik dijalankan kembali”, kata saya.

Dia berjanji datang setelah melapor kepada Tuan Inpektur, yaitu Tuan Marsudi. Inpekstur mempuanyai lingkup tugas mengawasi beberpa perkebunan sawit dan karet, yaitu Aek Loba, Aek Paminke, dan Nagai Lama. Belakangan nama jabatan ini ditukar menjadi Group Manager.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like