Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCIV)

Saya mulai curiga, mereka mau mempermainkan sayakarena saya masih muda dan baru, new kid on the block. Memang sudah biasa terjadi dikalangan mekanik senior ada yang ingin mencoba-coba mental teknisi junior. Cerita seperti ini sudah pernah saya dengar ketika saya kerja praktek di PN Garam di Mdura dan di pabrik minyak Shel di Plaju, Palembang. Jadi, saya tidak segera memberikan reaksi. Diam-diam saya amati wajah mereka. Sulit ditebak apakah mereka jujur atau ada yang bersekongkol dengan petugas gudang menyembunyikan barang itu.

Saya kembali ke kantor dan memanggil Kerani I. Dia adalah pegawai tertinggi pangkatnya di pabrik. Kebun PNP (Perusahaan Negara Perkebunan) jabatan seperti ini disebut KTU, singkatan dari kepala tata usaha. Pokoknya Kerani I itu berwibawa dan disegani karena dia ikut menentukan kenaikan gaji karyawan. Kerani I, saya suruh pergi ke gudang menanyakan soal metalan cadangan itu. Kembali dari gudang laporannya negatif.

“Kata mereka dulu memang ada pak, tapi sudah diambil pak Rauf ketika datang berkunjung bulan yang lalu”, lapornya.

Saya panggil Jacobus menanyakan apakah rauf ada minta izin mengambil metalan cadangan dari gudang. Ternyata tidak ada, karena Rauf datang untuk memperbaiki kopling pada as transmisi utama. Saya tambah curiga kebohongan mereka dan niat merekamengerjai saya. Tanpa mereka sadari saya tahu bahwa mereka berbohong. Kalau saya tunjukan bahwa saya tahu mereka berbohong, saya yakin mereka akan ngotot dan berujung pada jalan buntu.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like