Terkait dengan isu perkelapasawitan terutama minyak goreng beberapa waktu mendorong para ahli pangan, pengamat, pemerhati, akademisi, peneliti serta pemangku kepentingan lainnya mengadakan Simposium dan Forum Group Discussion (FGD) guna meningkatkan sinergitas dan kolaborasi antar institusi.

Acara tersebut diinisiasi Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), bekerjasama dengan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Fakultas Teknologi Pertanian – UGM, INSTIPER Yogyakarta, dan mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Dengan menghadirkan pembicara di antaranya Dr. Ir Darmono Taniwiryono, M.Sc (MAKSI) Prof. Dr. Ir, Sri Raharjo, M.Sc (Guru Besar FTP UGM), Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng (Rektor INSTIPER), Dr. Ir Tungkot Sipayung (PASPI). Dan menghadirkan Keynote Speech, Muhammad Lutfi, Menteri Perdagangan RI yang diwakili oleh Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan.

Prof. Dr. Ir Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) – UGM menyampaikan tujuan dari simposium adalah untuk merespon perkelapasawitan dalam upaya merumuskan agenda strategis nasional, pengembangan usaha strategis kelapa sawit nasional. “Mendiskusikan dan membangun persepsi yang saling menguatkan antara berbagai pihak yang peduli terhadap perkelapasawitan Indonesia. dan mengeksplorasi ide-ide, ide inovatif dan strategis serta pengembangan industri hilir kelapa sawit bagi penguatan ekonomi dan ekspor non migas Indonesia yang berkelanjutan dan menyejahterakan,” ujarnya, saat memberikan sambutan, pada Sabtu (14 Mei 2022).

Sasaran dari kegiatan ini terbangunnya komunikasi yang intensif dan produktif antar para ahli, pelaku dan pegiat dalam merumuskan konsep dan strategi pengembangan kelapa sawit nasional. Terbukanya khasanah baru yang objektif dan konstruktif dalam memandang permasalahan kelapa sawit dari hulu hingga hilir berkelanjutan. Dan mendorong pemerintah dan pengambil kebijakan untuk mengimplementasikan kebijakan, program dan pengawasan perkelapasawitan yang sinergis antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat baik produsen dan konsumen.

“Kami harapkan dari simposium dan FGD dapat menjadi pengembangan ilmu industri sawit yang sinergis bagi ekonomi dan kesejahteraan rakyat dan dokumen kolaborasi antara institusi dalam bidang perkelapasawitan Indonesia,” imbuh Prof Eni.

Hal yang senada disampaikan Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc selaku Ketua Umum PATPI.  Simposium dan FGD ini sebagai wahana untuk saling berdiskusi dalam rangka merespon isu kelapa sawit khususnya minyak goreng. Harapannya dalam memberikan kontribusi solusi alternatif dan industri kelapa sawit dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang berkelanjutan.

Terkait dengan peran besar dan pentingnya kelapa sawit bagi bangsa dan Negara, Oke Nurwan, mengatakan kelapa sawit menjadi komoditi unggulan nasional. Kelapa sawit merupakan komoditi unggulan perkebunan indonesia sekaligus sebagai komoditi unggulan ekspor sehingga menjadi salah satu penghasil devisa negara. Ekspor minyak sawit dan produk turunannya pada 2021 memberikan sumbangan hampir US$33,3 miliar dengan volume ekpor mendekati 40 juta ton. Dan, ekspor sawit dan turunnya berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan.

“Dari sisi kinerja ekpor minyak sawit mengalami kenaikan salah satunya karena dampak naiknya harga minyak nabati termasuk minyak sawit di pasar internasional. Hal ini sebagai dampak turunnya volume panen komoditi minyak nabati serta pulihnya ekonomi di beberapa negara karena akibat pandemi Covid-19 pertumbuhan ekonominya sempat mengalami perlambatan. Faktor lain naiknya harga adalah perang antara Rusia dan Ukraina dan kondisi stok yang terbatas membuat negara mensubstitusi dengan minyak sawit,” kata Oke.

Mengamati isu perkelapasawitan yang saat ini sudah menjadi komoditi unggulan nasional, Darmono Taniwiryono menyampaikan dari sisi historis. Dalam perkembangannya perkelapasawitan Indonesia telah berjalan selama 174 tahun, sejak ditanamnya 4 bibit kelapa sawit di Indonesia. 111 tahun dari sejak diabangunnya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) skala Industri uhtuk menghasilkan CPO dan produk-produk turunan CPO, dan 36 tahun dari sejak perkebunan kelapa sawit rakyat mulai berkembang pesat. Sawit diusahakan oleh negara, swasta dan rakyat.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 127)

Share.