Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi Dan Pangan Secara Berkelanjutan (Bagian XXVII)

Tahun 1965, total konsumsi minyak nabati kawasan Uni Erpoa adalah 1000 ton. Tahun 1980, konsumsi minyak nabati meningkat menjadi 463.000 ton. Thaun 2000 konsumsi minyak nabati meningkat sangat pesat menjadi 11,5 juta ton atau hampir 25 kali lipat dalam dekade 1990-2000. Peningkatan ini berdampak pada perubahan pola konsumsi, sunflower oil menurun dari 84,3% menjadi 22,2%, sementara konsumsi rapeseed meningkat pesat dari 0,8% menjadi 34,4% dan minyak sawit dari 0 menjadi 24,3%, serta minyak kedele naik 14,9% menjadi 19%.

Hal ini menunjukan bahwa pola konsumsi nabati cenderung bereser ke sunflower oil ke rapeseed dan minyak sawit nerada pada posis kedua. Dalam dekade 2000 ke 2010, konsumsi minyak nabati dari sekitar 11,5 juta ton menjadi 20,1 juta ton lebih, dengan growth 8,1% per tahun. Sumber utama minyak nabati tetap didominasi oleh rapeseed oil (46,4%), dan minyak sawit memiliki kontribusi penting dengan pangsa 23,6% dan selebihnya adalah minyak bungan matahari (16,9%) dan minyak kedele (13,2%). Tahun 2014 konsumsi nabati naik menjadi 21 juta ton, dengan growth 0,2 per tahun.

Tahun 2014, diperoleh gambaran umum bahwa konsumsi utama minyak nabati di kawasan Uni Eropa adalah rapeseed oil (44,9%), dan minyak sawit berbeda pada urutan kedua dengan proporsi 29,2%, sedangkan proporsi sunflower oil dan minyak kedele masing-masing adalah 17,5% dan 8,5%. Tahun 1980 dan 1990 pola konsumsi didominasi oleh sunflower oil, kemudian bergeser ke rapeseed oil pada tahun 2000 dan 2010. Minyak sawit memiliki peran kedua terpenting dalam memenuhi permintaan minyak nabati Uni Eropa. Minyak kedele lebih bersifat complementary, yakni untuk mencukupi permintaan minyak nabati di Uni Eropa.

Sumber : GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like