Berkembangnya Bahan Bakar Nabati Indonesia di Dukung Kebijakan Nasional

Bagian III

Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, menunjukan bahwa dengan persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barel dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan  memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan abakar alternatif ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi sumber energiterbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai penganti bensin, biodiesel sebagai penganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

Baca Juga :   Petani Desak Perancis Batalkan Kenaikan Pajak Impor Sawit

Bioethanol sebagai penganti bensin, dapat diproduksi dari tumbuh-tumbuhan seperti tebu, singkong, ubi dan jagung yang dapat dengan mudah dikembangkan di negara kita. Salah satu keunggulan dari bioethanol ini adalah tingkat polusi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Biodiesel yang berasal dari tanaman seperti kelapa sawit, jarak, kelapa dan lain-lain, juga dengan mudah di peroleh di Indonesia. Kedua bahan energi dapat dimanfaatkan sebagai penganti bahan bakar fosil. Tetapi kendala yang utama adalah bagaimana membangun ratai produksi energi tersebut, mulai dari petani sebagai pelaku utama dalam penyediaan bahan baku sampai ke distributor energi yang dihasilakan. Ketersediaan dan keberlanjutannya jangan sampai mengganggu produksi pertanian kita.

Baca Juga :   Dukung Promosi Sawit di Eropa, GAPKI Gabung EPOA

Sumber: GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like