JAKARTA, SAWIT INDONESIA – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (“ANJ”) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan untuk meminta persetujuan dan pengesahan atas Laporan Tahunan ANJ untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019, termasuk di dalamnya Laporan Kegiatan ANJ, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris dan Laporan Keuangan Konsolidasian ANJ untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019.

Selain itu dalam RUPST, para pemegang saham juga telah menyetujui ANJ untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 serta mengangkat kembali anggota Dewan Komisaris dan Direksi ANJ tertentu yang berakhir masa jabatannya.

Pada 2019, ANJ mencatatkan pendapatan sebesar USD 130,4 juta, mengalami penurunan sebesar 14,1% dibandingkan dengan 2018. Hal ini disebabkan oleh turunnya harga jual rata-rata dan volume penjualan CPO dan PK. Penjualan CPO dan PK berkontribusi sebesar 98,6% terhadap total pendapatan perusahaan atau sebesar USD 128,5 juta. ANJ mencatat rugi bersih sebesar USD 4,6 juta dibandingkan dengan rugi bersih sebesar USD 0,5 juta pada 2018. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata dan volume penjualan CPO dan PK pada 2019.

Faktor ini juga menyebabkan EBITDA mengalami penurunan dari USD 25,1 juta pada 2018 menjadi USD 22,9 juta pada 2019. Pada 2019, ANJ meningkatkan pembelian TBS dari pihak ketiga untuk memaksimalkan utilisasi pabrik. Total TBS yang dibeli dari pihak ketiga pada 2019 sebesar 405.754 mt meningkat sebesar 8,1% dibandingkan dengan 2018.

Sejalan dengan menurunnya produksi TBS, produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil atau “CPO”) dan inti sawit (Palm Kernel atau “PK”) mengalami penurunan masingmasing sebesar 3,2% dan 4,5% menjadi 240.844 mt dan 51.585 mt pada 2019. Akibatnya, ANJ mencatat penurunan volume penjualan CPO dan PK masing-masing sebesar 2,6% dan 4,0% menjadi sebesar 239.800 mt dan 52.115 mt pada 2019 dibandingkan penjualan CPO dan PK pada 2018.

Di tahun 2019, ANJ melakukan inovasi untuk meningkatkan efisiensi dan pengambilan keputusan dalam manajemen perkebunan dengan memperkenalkan sistem E-PMS (E-Plantation Mobile Solution). Penggunaan E-PMS telah dilakukan di beberapa perkebunan anak perusahaan ANJ antara lain PT Kayung Agro Lestari (KAL), PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA) dan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS). Kemampuan E-PMS untuk melakukan proses secara real-time telah menghasilkan efisiensi yang signifikan.

Pada November 2019, perkebunan KAL di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat telah menerima sertifikasi RSPO; dengan demikian, kini semua perkebunan ANJ yang sudah menghasilkan telah bersertifikasi RSPO dan memenuhi syarat untuk menjual minyak sawit bersertifikat. Kemajuan lain yang telah dicapai adalah pabrik kelapa sawit baru ANJ di Sorong Selatan, Papua Barat telah memasuki tahap uji coba dengan produksi CPO selama periode uji coba dari perkebunan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP) dan PT Permata Putera Mandiri (PPM) yang mencapai 4.120 ton pada akhir tahun 2019.

Dalam pemaparan laporannya, Direktur Utama ANJ, Istini T. Siddharta, , mengatakan walaupun mendapat tantangan berat pada 2019, ANJ tetap tangguh dalam mengonsolidasikan sumber daya dan membuat keputusan strategis yang akan menempatkan ANJ di jalur yang tepat untuk mencapai visi dan pertumbuhan di masa depan. “Sepanjang 2019 harga CPO terus mengalami tren penurunan walaupun pulih secara perlahan sejak Agustus. Harga rata-rata CPO yang hanya mencapai USD 479 per ton sepanjang tahun menyebabkan dampak signifikan yang memberatkan industri minyak sawit, namun Perseroan tetap tangguh dan mengambil langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan” tutur Istini.

Cuaca buruk adalah tantangan lainnya bagi industri karena musim kemarau yang berkepanjangan turut berkontribusi pada meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan antara bulan Juni sampai November, sehingga menyebabkan kerusakan dan kerugian ekonomi yang besar.

Share.

Comments are closed.