RODENSIA PERUSAK DI DALAM EKOSISTEM SAWIT

Penulis: Dzulhelmi Nasir & Nursyereen Nasir

(Bagian pertama)

Sebanyak 5-10% spesies rodensia (hewan pengerat) di seluruh dunia dikategorikan sebagai makhluk perusak di dalam ekosistem pertanian. Ekosistem pertanian dengan kegiatan monokultur adalah berbeza daripada habitat semula jadi hewan dan ini menggalakkan perkembangan pesat sesetengah spesies rodensia yang kemudiannya menjadi koloni dan menjadi populasi hewan perusak yang besar. Di Asia Tenggara, sesetengah spesies rodensia telah dikenal sebagai hewan perusak yang membimbangkan karena menyebabkan kejatuhan ekonomi yang besar. Rodensia memakan hasil pertanian dan menyebabkan kerusakan, mengganggu produksi penyimpanan hasil tanaman, meningkatkan biaya yang diperlukan untuk mencegah dan memelihara dan untuk membeli dan menyelenggara material tanaman baru. Kelapa sawit, Elaeis guineensis (Arecaceae: Arecoideae) meliputi 5,39 juta hektar atau 14% keseluruhan kawasan tanah di Malaysia adalah hasil tanaman keperluan yang penting. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Malaysia menghasilkan sekurang-kurangnya 80% produksi minyak di peringkat global. Kelapa sawit mempunyai nilai komersial yang penting dalam menjaga pendapatan negara, sebagai sumber minyak nabati dan bahan bakar bio yang efisien dan murah, dan menjamin keselamatan makanan. Sama seperti bidang pertanian yang lain, infestasi hewan perusak terhadap ladang kelapa sawit mengundang kebimbangan bagi pelbagai pihak. Pokok kelapa sawit yang berusia dua tahun setengah akan mula menghasilkan tandan buah dan mencapai tahap pengeluaran buah yang optimum pada usia tujuh hingga sepuluh tahun. Namun begitu, serangan hewan rodensia perusak bermula daripada seawal anak pokok masih lagi di dalam beg perlindungan di tapak semaian. Hal ini menyebabkan anak-anak benih yang berpotensi tinggi terpaksa dibuang. Populasi rodensia perusak pula boleh berkembang selari dengan tempoh kematangan pokok kelapa sawit dan penghasilan buah.

Baca Juga :   Wilmar, Perusahaan Sawit Satu-satunya Peraih Penghargaan Penyumbang Devisa Ekspor Dari Bank Indonesia

 

Di Malaysia, tiga spesies hewan perusak rodensia utama untuk ladang kelapa sawit adalah Tikus rumah (Rattus rattus diardii), Tikus sawah (Rattus argentiventer) dan Tikus belukar (Rattus tiomanicus). Kerusakan yang terhasil apabila rodensia memakan tandan buah sangat terlihat. Tikus menggali anak benih matang dan tidak matang yang masih di dalam tandan dan anak benih matang yang sudah terpisah daripada tandan di atas tanah. Mamalia kecil yang lain juga bisa menyebabkan kerusakan yang sama, tetapi kerusakan yang diakibatkan tikus lebih intensif dan meluas. Selain kerusakan tandan buah, bagian pokok kelapa sawit yang lain turut mengalami kerusakan. Tahap kerusakan yang dilakukan oleh spesies tikus bergantung kepada umur pokok kelapa sawit. Tikus sawah lebih cenderung untuk menyerang pokok kelapa sawit yang lebih muda, seawal umur dua tahun setengah, dan dianggarkan tidak lagi menyerang apabila pokok mencapai usia lebih enam tahun. Kerusakan pokok kelapa sawit muda oleh tikus tidaklah seburuk dibandingkan spesies mamalia lain (landak, tikus buluh). Spesies tikus ini lazimnya dijumpai di kawasan berlubang dengan rumput tebal di perkebunan kelapa sawit. Tikus rumah lebih banyak dijumpai di pokok kelapa sawit yang berumur lebih daripada empat tahun dan juga di ladang pokok kelapa sawit yang sudah lama dibuka. Tikus lebih suka bersarang di bawah himpunan pelepah, lubang di dalam tanah, dan di dalam pokok kelapa sawit. Tikus belukar sangat senang tinggal di kawasan bersemak dan menggunakan timbunan pelepah sebagai tempat berlindung di ladang kelapa sawit. Pokok kelapa sawit yang belum matang sering menjadi sasaran spesies ini karena dapat menggali   lubang di pangkal pelepah daun untuk memakan tisu lembut pelepah muda. Hal ini lazimnya akan membantu pertumbuhan pokok palma tersebut. Tikus belukar banyak dijumpai di pelepah pokok palma karena disitulah membuat sarang dan berlindung daripada pemangsa. Bagian lain pokok kelapa sawit pula digunakan menjadi tempat tinggal, lebih-lebih lagi lubang bawah tanah dan pucuk kelapa sawit, sebagai makanan (semak samun dan pucuk kelapa sawit) dan bergerak di kawasan habitat (semak samun). Tikus juga memakan larva kumbang kelapa sawit (Elaeidobius kamerunicus) sebagai agen pembungaan kelapa sawit. Ulat ini membesar di dalam bunga jantan sejurus selepas fasa antesis. Hal ini menyebabkan bunga-bunga jantan musnah dan mengurangi populasi kumbang kelapa sawit. Secara langsung mempengaruhi proses pembungaan bagi jambak bunga betina dan menurunkan hasil tanaman.

Baca Juga :   Hore, Perpanjangan HGU Cukup 14 Hari
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like