Sugiyanto juga mengingatkan pengaplikasian saat musim kering terutama di puncak musim kering sebaiknya dihindari. Karena reaksi pupuk ini hidrokopis (menyerap air) setelah menyerap air akan teruai dan akan terserap oleh jaringan di antara pelepah dan batang.
Pupuk PUMASA yang telah diuji oleh tim ahli dari INSTIPER Yogyakarta, dan sudah terdaftar di Kementerian Pertanian pada Oktober 2017 lalu. Sehingga sudah layak dan dapat diaplikasikan pada tanaman yang dibudidayakan.
Saat ini Pupuk PUMASA mempunyai dua komposisi yaitu 14-10-20-2+TE (14% Nitrogen, 10% P2O5, 20% K2O, 2% MgO dan Trace Element) dan 20-10-12-2+TE (20% Nitrogen, 10% P2O5, 12% K2O, 2% MgO dan Trace Element). Kedua komposisi pupuk ini mempunyai keunggulan sebagai berikut yang wajib diketahui para pembudidaya tanaman. Di antaranya, pupuk Pumasa diproduksi secara khusus sehingga dapat diaplikasikan di pangkal pelepah muda pohon sawit. Saat berada di lingkungan yang lembab dan atau terkena tetesan air hujan, pupuk PUMASA akan terhidrolisa secara lambat.
Setelah terhidrolisa, unsur hara yang terkandung dalam PUMASA akan masuk ke dalam tanaman melalui jaringan antara pelepah dan batang. Karena jarak antara pangkal pelepah dan helai daun sangat dekat, maka pupuk PUMASA sangat sesuai untuk memperbaiki keragaan (performance) tanaman.

