Perlakuan Uni Eropa Tidak Adil Terhadap Sawit

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengatakan isu lingkungan yang disuarakan Uni Eropa dinilai tidak adil. Sekarang ini, perkebunan sawit telah mengubah lahan terlantar menjadi lahan produktif. (Sumber Foto: DPR RI)

JAKARTA, SAWIT INDONESIA –   Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir menilai bahwa perlakuan Uni Eropa terhadap kelapa sawit tidak adil dibandingkan minyak nabati lain. Bagi Indonesia, sawit adalah masa depan  di tengah proyeksi pertumbuhan populasi dunia yang terus meningkat dan kian menyempitnya lahan pertanian, energi terbarukan semakin menjadi kebutuhan mendesak. Energi terbarukan itu salah satunya dihasilkan dari produk kelapa sawit.

“Tidak ada negara lain sebaik negara kita pertumbuhan sawitnya. Kita punya 12 jam sinar matahari, 365 hari, dan tidak ada musim dingin. Maka sawit tumbuh dengan baik. Kita produsen sawit terbesar di dunia. Tantangannya adalah kampanye negatif terhadap produk sawit kita,” kata Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir usai mengikuti BKSAP Day di Yogyakarta, Senin (5 April 2021) seperti dilansir dari laman DPR RI.

Tantangan datang dari kampanye negatif Uni Eropa yang selalu menyuarakan isu lingkungan terhadap produk sawit Indonesia. Menurut Hafisz, isu lingkungan yang disuarakan Uni Eropa dinilai tidak adil. Dulu, memang petani Indonesia menebang pohon untuk menanam sawit. Tapi, kini lahan-lahan tidak produktif diubah menjadi perkebunan sawit, sehingga bernilai ekonomi tinggi dan lingkungan pun terjaga.

Bila isu lingkungan, lanjut Anggota Komisi XI DPR RI ini, dikaitkan dengan masa lalu, maka Indonesia juga bisa menggugat negara-negara Eropa yang dulu menggunduli hutannya untuk membangun ibu kota.

“Sekarang orang menanam sawit tidak lagi membakar lahan. Zaman sudah berubah. Kalau kita kembali ke masa lalu, kita juga bisa protes pada Inggris dan Prancis. Kenapa Paris hutannya digunduli untuk membangun kota indah Paris. Begitu juga London dan Washington DC. Yang sudah berlalu ya sudah. Kita bicara ke depan,” paparnya.

Ditambahkan legislator dapil Sumatera Selatan I ini, Uni Eropa harus membuktikan bahwa perkebunan sawit di Indonesia merusak lingkungan. Justru, katanya, 43 persen lahan sawit itu berada di daerah terlantar yang kemudian diperbaiki ekosistemnya. Jadilah kini lahan sawit. Tidak ada yang rusak, malah lingkungan membaik.

“Ini harus kita kampanyekan kepada negara-negara sahabat. Jangan sampai ada yang mengatakan produk sawit mengganggu karbonisasi dunia. Ini harus kita jelaskan kepada dunia,” seru politisi PAN itu.

Di sinilah BKSAP DPR intens melakukan diplomasi parlemen kepada negara-negara sahabat terutama Uni Eropa. Sawit di Indonesia sudah menjadi masa depan bangsa di sektor perkebunan dan industri. Sawit mampu menggantikan energi fosil yang kini dikenal dengan B30 berupa BBM jenis solar.

“Sawit di Indonesia sudah bersahabat dengan lingkungan. Sudah menganut tata lingkungan dan tata kelola yang baik. Bahkan, kita sudah punya konsultan untuk memberi sertifikasi produk sawit yang layak untuk dikonsumsi,” jelas Hafisz.

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like