Perempuan Dan Peranannya Di Dunia Penelitian

Prof. Dr. Enny Sudarmonowati, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati  LIPI

Dunia riset bukanlah dominasi kaum pria. Perempuan punya kesempatan sama untuk berkarya sebagai peneliti.

Dalam pandangan Prof. Enny Sudarmonowati, peneliti perempuan zaman now punya kesempatan sama untuk lebih maju dan berprestasi. Apalagi, perempuan sejatinya mempunyai kemampuan untuk mengerjakan berbagai aktivitas (multitasking). Saat ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memotivasi peneliti perempuan menjadi agen perubahan bagi dunia ilmu pengetahuan dan riset di Indonesia. Hingga tahun ini, ada  779 peneliti perempuan yang tersebar di satuan kerja LIPI di seluruh Indonesia.

“LlPI selalu mendorong peneliti perempuan untuk meningkatkan kompetensi mereka,” jelas Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof.Dr. Enny Sudarmonowati di Diskusi Publik Peringatan Hari Perempuan Internasional 2018 “Perempuan dalam Transformasi Iptek” pada awal Maret 2018 di Jakarta.

Enny menyebutkan para peneliti perempuan LIPI diarahkan supaya lebih menonjolkan bidang kepakaran yang unik di jejaring ilmiah dunia. “Cara ini dapat menjadi pembuktian  kemampuan peneliti dan memberi motivasi perempuan Indonesia untuk berkarya,” jelas Enny.

Adapun LIPI tidak pernah membeda-bedakan peneliti laki-laki atau perempuan dalam bekerja dan berkarir. Baik kaum Adam dan Hawa sama-sama didorong untuk menghasilkan karya. Kendati demikian, perempuan cenderung punya minat besar terhadap ilmu pengetahuan dan dianggap punya tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibanding laki-laki.

“Sebagai contoh di bidang genetika molekuler atau mikrobiologi. Banyak perempuan di sana. Perempuan biasanya lebih tekun dan teliti meneliti hal-hal kecil. Jadi berkaitan dengan meneliti objek kecil-kecil atau kaitannya mikroskop, mampu dikerjakan perempuan,” kata Enny yang pernah menerima penghargaan 100 Best Woman Researchers dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

 

LIPI sendiri berupaya melengkapi laboratorium yang ada untuk menarik keinginan para perempuan peneliti agar giat berkarya. Dengan demikian, semakin banyak prestasi yang ditorehkan peneliti perempuan. Enny mengakui, tidak mudah menjadi perempuan sekaligus peneliti. Banyak tantangan yang menghadang termasuk soal manajemen waktu.

 

Perempuan, apalagi yang sudah bekeluarga pasti dihadapkan dengan urusan rumah tangga. Peneliti perempuan pun seperti itu. Namun, itu bukan jadi kendala berarti. Hal ini lantaran, menurut Enny, perempuan dibekali kemampuan untuk mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus (multitasking).

“Sebenarnya, perempuan itu unggul secara multitasking. Syaratnya, mereka terus mengasah kemampuannya. Alangkah baiknya peneliti (perempuan) dapat membagi waktu bersama keluarga. Kuncinya, harus pintar manajemen  waktu,” tegasnya.

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like