Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CLXXXIII)

Saya pun beristirahat sejenak disebuah kamar tidur yang besar di rumah Meulemans. Pada saat itulah tercium aroma buah gurih oleh hidung saya. Dalam batin, harum apakah ini, sepertinya enak sekali, macam jagung rebus aromanya. Gurih, rupanya aroma wangi itu datang dari pabrik yang sedang merebus buah sawit. Buah itulah yang berpuluh-puluh tahun kemudian akan saya geluti. Memang benar bukan pertama kali saya kenal bentuk buah sawit. Saat masih kecil, saya pernah melihat buah warna oranye itu berjatuhan dipingir jalan. Rupanya sudah suratan takdir kalau kelak ketika saya dewasa akan bekarja di industri sawit.

Di Mata Pao saya tinggal dirumah Tekniker II Jacobus yang berpengalaman sebagai teknisi kapal. Ia berasal dari pulau Sangir, Sulawesi dan tinggal di Mata Pao bersama istri dan anak kembarnya. Saya dititipkan dirumah Jacobus, untuk itu dibuatkanlah  cepat-cepat  satu balai-balai yang pas dengan kasur yang saya bawa.

Sama seperti Jacobus yang sudah senior, saya pun berkedudukan sebagai Tekniker II, tetapi dengan golongan yang lebih tinggi karena saya sarjana. Meulemans yang jadi pimpinan saya pun hanya golongan D5. Manajernya yaitu A.B. Siregar, golongan E, sedangkan saya golongan F1. Karena itulah gaji saya lebih tinggi dari mereka walaupun saya pegawai yang baru sehari masuk kerja. Belakangan Jacobus membantu saya dalam menangani kerusakan mesin diesel besar di pabrik kebun Aek Loba.

Sumber : Derom Bangun

1 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like