Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CCLXXVII)

Saya telpon mereka untuk bernegosiasi agar harga bagus. Produksi karet itu kemudian di jual kepada mereka. Tiga bulan di bawah manajemen Kinar Lapiga, biaya operasional sudah terpenuhi dari hasil produksi. Hasil kebun sudah bisa membayar gaji semua pegawai, gaji pensiunan, tidak ada lagi istilah nombok seperti tiga bulan sebelumnya.

Pikiran saya tercurah pula untuk membuka kebun yang lahannya tak terawat dan sebagian di kuasai oleh warga. Tentu mereka pun tahu bahwa sebenarnya mereka bukan pemilik sah dari lahan itu. Namun, apa bila salah mengambil langkah penyesaian, tentu warga bisa bertahan dan melawan pemilik lahan resmi seperti saya. Perlu pendekatan khusus untuk meraih hati mereka. Paling tidak, mereka harus tetap diperlakukan sebagai manusia yang perlu kita hargai dan hormati saja.

Baca Juga :   Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian CCVI)

Pada lahan itu sebagian sudah ada kelapa yang tumbuh di wilayah seluas 17 hektar. Ada pula yng sudah menjadi kebun pepaya, bahkan ada yang mengunakan sebagai area perkebunan untuk ditanami cabe, padi, dan berbagai jenis tanaman lainnya. Kami ingin mengunakan semua lahan itu sebagai areal perkebunan. Saya pun memperhitungkan semua tumbuhan yang dikelola oleh penduduk itu. Paling tidak mereka mendapatkan ganti rugi atas apa yang telah mereka tanam selama ini.

Sumber : Derom Bangun

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like