Kelapa sawit adalah komoditas minyak nabati yang sangat berbeda dengan minyak nabati lainnya. Komoditas ini mempunyai ruang pemanfaatan sangat besar di bidang energi dan pangan. Belum ada komoditas lain yang yang industri turunan dan manfaatnya sebanyak sawit.

“Itu sebabnya, sistem industri sawit  menjadi lebih komplek dan memberikan nilai ekonomi serta  bisnis yang tinggi. Ke depan industri sawit berikut  bisnisnya akan berperan penting di dunia. Peranan komoditas ini akan lebih global dengan bisnis luar biasa,” ujar Dr. Purwadi, Ketua Pusat Kajian Kelapa Sawit Instiper, dalam wawancara yang dijawab tertulis, Kamis (5 Mei 2022).

Dalam wawancara kali ini, Dr. Purwadi menjelaskan struktur dan kompleksitas industri sawit mulai dari Tandan Buah Segar (TBS) sawit sampai menjadi produk jadi. Produk kelapa sawit bukan sebatas minyak goreng saja. Tetapi mempunyai keragaman produk yang luar biasa banyak.

Dari segi rantai industri, dikatakan Purwadi, kelapa sawit merupakan industri yang membutuhkan investasi besar dan juga pengalaman serta penguasaan teknologi besar. Tak semua pelaku usaha dapat terjun ke industri ini. Itupun pengusaha yang tertarik dan melakukan bisnis ini pada umumnya pebisnis besar. Mereka harus menguasai rantai pasok baik rantai pasok bahan baku dan rantai pasok pemasaran produknya.

Untuk mengulas lebih dalam struktur industri kelapa sawit, berikut ini petikan wawancara kami dengan Dr. Purwadi yang dilakukan secara tertulis:

Sawit Indonesia (SI):   Pak Pur, bagaimana perkembangan perkelapasawitan di Indonesia setelah lebaran?  

Purwadi (PW): Semoga menjadi lebih baik dan lebih transparan dan menjadi terang benderang dalam keseimbangan baru yang lebih baik, semua akan kembali normal.

SI:  Sebenarnya akan seperti apa bisnis sawit untuk ke depannya, barangkali bisa dijelaskan lebih detail?

PW: Begini, seperti saya jelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa sawit telah menjadi komoditas global, memiliki peran sangat besar dan telah menjadi kontributor perdagangan minyak nabati dunia. Sawit dengan produk turunan telah menjadi komoditas sangat penting di dunia, namun masih banyak yang belum/kurang memahaminya sehingga bisnis ini di Indonesia di kelola biasa-biasa saja, bahasa kerennya “as usual”.

Bisnis dan industri berbasis kelapa sawit itu komplek dan tidak seperti komoditas lain, misalnya komoditas minyak nabati lain dan juga komoditas perkebunan lain. Kelapa sawit selain menjadi minyak makan, juga energi dan industri turunannya bisa menjadi bahan baku produk-produk baru (turunan) untuk kebutuhan sehari-hari misal, kosmestik, pasta gigi, margarin, substitusi coklat, dan seabrek produk-produk yang kita pakai sepanjang hari. Produk-produk turunan itu tidak ada di produk minyak nabati lain, seperti kedelai, rapeseed, kanola, minyak bunga matahari dan lainnya. Artinya industri turunannya luar biasa banyak dan bermanfaat untuk kehidupan sehari. Karena itu sawit adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia dan wilayah tropika lainnya.

Bagaimana dengan komoditas perkebunan atau pertanian lainnya di Indonesia? Ya, tidak ada yang industri turunan dan manfaatnya sebanyak sawit, misal karet, kopi, kakao, tebu, padi atau tanaman lainnya yang dihasilkan di Indonesia. Itu sebabnya, sistem industri sawit  menjadi lebih komplek dan memberikan nilai ekonomi dan bisnis yang tinggi. Kedepan industri sawit berikut  bisnisnya akan berperan sangat penting di dunia, menjadi komoditas global dengan bisnis luar biasa.

SI: Tanaman sawit menjadi pohon emas hijau, disinilah industri berbasis sawit dimulai, bagaimana karakter tanaman sawit sebagaiperkebunan atau industri di tingkat kebun?

PW: Perkebunan sejatinya perlu dipahami sebagai sistem industri yang memproduksi biomass. Oleh karena itu saya lebih senang menyebutnya sebagai industri biomas atau biomass industry. Kalau perkebunan kita pahami sebagai industri biomas, maka sistem proses produksi harus dimahami sebagai sebuah “sistem proses” sama dengan sistem proses pada industri lainnya. Sistem dalam industri biomas ini diproses melalui “mesin” tanaman yang ditanam di tanah, dan diberikan input tambahan berupa agrokimia pupuk, pestisida dan lainnya dan agro input biologi berupa mikroba dengan tambahan air dan sinar matahari akan menhasilkan produk biomas.

Tentu untuk efektifitasnya perlu turut campur tangan manusia dengan bantuan alat mesin pertanian. Jika hal ini dipahami maka tidak ada alasan industri ini tidak mampu menghasilkan dengan baik, namun harus dipenuhi kebutuhan agro inputnya dan tentu pemeliharaan sesuai lingkungannya.  Tanaman kelapa sawit memiliki beberapa karakter khas, contohnya,  tanaman kelapa sawit adalah tanaman tahunan, jika tidak dilakukan pemupukan akan berdampak pada produksi 1-2 tahun ke depan. Oleh karena itu kalau atas dasar alasan harga pupuk yang hari ini harganya naik lebih dari dua kali lipat, dan petani tidak melakukan pemupukan atau melakukan pemupukan yang kurang atau tidak sesuai kebutuhan, maka dampaknya pada penurunan produksi 1-2 tahun mendatang.

Contoh lainnya produksi dan panen, tanaman sawit yang sudah umur produktif akan menghasilkan tandan buah segar (TBS) sepanjang tahun dan ini tidak terjadi pada tanaman lain apalagi tanaman semusim lainnya yang produksinya bersifat musiman sesuai musim panennya. TBS ini harus dipanen setiap 2 minggu sekali dan jika tidak dipanen maka akan busuk dan merusak tanamannya, karena bersamaan panen ini juga harus dilakukan pemotongan pelepahnya. TBS ini jika dipanen harus segera diolah di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) selambatnya 24 jam untuk mamperoleh kualitas CPO yang baik, kalau lambat diproses maka asam lemak bebasnya meningkat seiring tambahan waktu dan akan mengurangi kualitas CPO. Dengan karakter budidaya dan panen sawit yang demikian maka akan mempengaruhi sistem pengolahannya. Hal-hal ini kadang tidak banyak dimengerti oleh orang bukan pelaku dan tidak belajar sawit.

SI :  Produk turunan sawit banyak, berarti sistem industrinya komplek?

PW: Industri biomass pada prinsipnya sama, mentransformasi dari biomass menjadi produk lanjutan melalui proses mekanis, khemis dan barangkali biologis, tergantung karakter biomas dan produk yang dihasilkannya, maka bisa sederhana dan bisa komplek. Sawit jika diolah lebih lanjut menjadi produk turunan ke satu, kedua dan ketiga barangkali masih relatif sederhana. Namun memasuki industri turunan keempat dan kelima sudah mumbutuhkan teknologi khusus. Demikian juga nilai ekonomi dan bisnisnya setelah turunan keempat dan kelima nilai tambah akan sangat tinggi. Yang menarik dan khas, untuk skala industri dan bisnis global, efisiensi industri turunan sawit membutuhkan skala yang besar. Contoh, dari tandan buah segar (TBS) untuk diolah menjadi CPO membutuhkan pabrik kelapa sawit skala optimal 30-60 ton TBS per jam.

Selanjutnya waktu proses panen sampai diolah tidak boleh lebih 24 jam, kalau lebih lama kualitas turun. Pada industri turunan tingkat ini mirip pada komoditas tebu, tapi tidak pada komoditas perkebunan lain. Demikian juga produk CPOnya tidak dapat disimpan lama, karena berbentuk cair dan masih bercampur dengan masa kotoran dan sedikit air jadi cepat rusak. Ini beda dengan komoditas lain termasuk tebu yang kalau diolah jadi gula bisa disimpan lebih mudah dan lebih tahan lama. Karena  pabrik kelapa sawit membutuhkan tangki timbun dan harus memiliki jaringan logistik dan pemasaran yang lancar, minyak harus mengalir secepatnya.

SI :  Jadi pabrik pengolah harus besar, dan ini membutuhkan investasi yang besar? Bagaimana dengan pengembangan PKS mini?

PW: Benar, PKS perlu besar untuk mengejar efisiensi. Tetapi namun PKS skala kecil pun bisa asal dengan tujuan untuk perdagangan lokal, dimana efisiensi yang rendah di proses pengolahan dapat di kompensasi dengan efisiensi logistiknya khususnya biaya transpor. Namun, sekali lagi cocok jika untuk mengolah skala perdagangan lokal, diolah di lokal dan dipasarkan lokal, taruhlah untuk skala kecamatan radius 10-20 km, TBS diolah jadi CPO-minyak goreng untuk dipasarkan di lingkungan kecamatan? Saya kira teknologi untuk itu bisa dikembangkan, karena belum komplek. Lha Indonesia itu pemain utama di global, punya sawit terluas, produksi terbanyak, ekspor terbanyak, maka pemikiran kita mestinya bangun industri turunan ke tiga, empat, lima  dan seterusnya, agar kita dapat mengelola dan mengontrol pasar dunia.  

SI:   Bagaimana dengan industri berbasis sawit menjadi minyak goreng?

PW: Secara sederhana urutannya, dari TBS diolah oleh PKS menjadi CPO, dari CPO diolah di pabrik-refineri menjadi RBDP Oil dan selanjutnya menghasilkan dua produk RBDP Olein atau minyak goreng dan RBDP stearin dan  untuk bahan industri turunan selanjutnya. Lha industri refeneri yang menghasilkan RBDP Olein atau minyak goreng ini kemudian menjual dalam bentuk minyak gorang curah, minyak goreng kemasan sederhana dan minyak goreng premium. Untuk minyak goreng premium ini selain kemasan baik juga kualitas lebih baik dan ada tambahan bahan lain, misalnya fortifikasi bahan lain misal vitamin A atau E.

Secara teknologi ini belum komplek. Namun untuk efisiensi membutuhkan skala pabrik yang besar, sekitar 1000-2500 ton per hari. Ini tidak hanya terkait efisiensi sistem proses tetapi juga efisiensi logistik pengadaan bahan baku juga logistik distribusi sampai ke konsumen? Oleh karena itu refineri yang besar dan banyak dibangun di pulau Jawa, yang utamanya untuk konsumsi dalam negeri karena pasarnya paling besar di Jawa dan sekitarnya. Namun untuk yang orientasi ekspor biasanya dibangun di kawasan berikat atau  dekat pelabuhan ekspor dekat bahan baku, misalnya di Medan atau Sulbar.

Sepertinya justru kompleksitas ada di finansialnya, untuk pengadaan bahan baku dan   biaya logistik ini. Pabrik CPO kalau tidak punya kebun sendiri harus beli CPO tunai, terus logistik bahan baku dari Kalimantan sampai Jawa butuh waktu 1-2 minggu, setelah sampai harus segera diproses karena CPO tidak bisa disimpan lama.

Selanjutnya  setelah diolah menjadi RBDP Oil dan RBDP Olien ini pada dasarnya masih mungkin disimpan lebih lama dibandingkan CPO, taruhlah 3 bulan? Selanjutnya didistribusikan sampai ke konsumen, dimana industri barangkali baru dapat hasil penjualannya 2-3 minggu untuk minyak goreng curah dan 2-3 bulan untuk minyak goreng kemasan, tergantung produk yang dihasilkan. Artinya untuk menjalankan industri ini membutuhkan finasial yang sangat besar untuk kebutuhan pembelian bahan baku dan memperoleh hasil penjualan dalam rentang 1,5 bulan-3 bulan. Menurut informasi marginnya relatif kecil untuk  produk minyak goreng curah, hanya perdagangannya mengalir terus dengan volume yang relatif stabil.

SI:   Bagaimana peluang pelaku industri sawit di Indonesia untuk memasuki produk turunan yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi?

PW: Industri turunan lanjutan tingkat 4 dan seterusnya tentu lebih komplek. Saat ini sebagian besar masih dikuasai negara maju. Namun sehebat-hebatnya teknologi kalau mau kita pasti bisa mendapatkannya atau menguasainya. Kita perlu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas riset dan inovasi terkait industri turunan sawit ini, jika ingin menjadi pemain dan menguasai bisnis gobal berbasis sawit.

Seperti PKS dan refeneri, maka industri turunan yang lebih komplek membutuhkan skala besar dan juga biaya investasinya juga besar. Dan oleh karenanya industri ini cenderung dibangun oleh perusahaan yang memiliki kaitan erat dengan industri bahan baku dan juga kerjasama dengan industri penggunanya. Dan yang juga penting,  pasar industri turunan ke empat dan seterusnya adalah industri multinasional produsen bahan kebutuhan sehari-hari, misal Mars, Nestle. Kraft, Unilever,  P & G dan lainnya.

SI: Bagaimana dengan bisnis sawit dengan produk turunannya?

PW: Karena struktur industrinya yang perlu besar, membutuhkan investasi besar, dan juga membutuhkan pengalaman dan penguasaan teknologi yang besar, maka pengusaha yang tertarik dan melakukan bisnis itu pada umumnya pebisnis besar yang menguasai rantai pasok baik rantai pasok bahan baku maupun rantai pasok pemasaran produknya. Karena itu  industri refineri  yang membangun sebagian besar juga memiliki PKS dan perkebunan sawit dan industri turunan selanjutnya serta  memiliki jaringan distribusi atau bekerjasama dengan perusahaan jasa perdagangan.  Bisnis sawit dan industrinya seratus persen B to B, dan oleh karenanya relatif kompetitif, untuk membangun efisiensi dan keberlangsungan industri dan bisnisnya mereka akan membangun saling ketergantungan dan kerjasama dalam jangka panjang.  Jadi dalam logika dan strategi bisnis ini adalah hal yang normal.

Indonesia berpeluang menjadi penentu dan pengatur pasar minyak nabati khususnya minyak sawit di dunia, jika kita mampu memperkuat jaringan rantai pasok dunia dengan kemampuan membangun industri hilir yang kuat di dalam negeri, membangun dan menguasai rantai pasok utamanya produk turunan kelapa sawit.

SI:  Bagaimana tanggapan Bapak mengenai pandangan sejumlah pihak berkaitan adanya permainan harga, penguasaan pasar dan mafia  minyak goreng?

PW: Begini, dengan struktur industri yang seperti dijelaskan diatas, barangkali memang ada beberapa memiliki penguasaan suplai cukup besar dibandingkan yang lain sehingga secara teoritis bisa melakukan praktek oligopoli dan memiliki peluang untuk mengatur harga, namun dalam kondisi normal, rasanya kok belum tentu memanfaatkan peluang itu. Bukankah mereka juga harus tetap mempertahankan kesetiaan pelanggan, dan jika harga naik konsumen bisa pindah dan beli produk lain atau substitusi barang lain. Jadi strategi penguasaan pasar lebih pada strategi untuk menjaga stabilitas dan keberlangsungan bisnisnya.

Pada kasus minyak goreng kemarin, harga naik karena bahan baku naik. Karena harga di pasar dunia naik dan tinggi, maka harga di dalam negeri ikut naik. Sebagai catatan, kenaikan harga di pasar dunia ini bukan hanya minyak nabati, tapi juga kenaikan harga pangan secera umum. FAO merilis indeks harga pangan 2021 sebesar 124,9 % (harga nominal) dan 124.2 poin (harga riil), tertinggi secara nominal dalam 10 tahun terakhir dan tertinggi dalam angka rill selama 25 tahun terakhir. Produk yang memiliki pengaruh terbesar dalam peningkatan harga pangan di pasar dunia adalah minyak nabati, serealia dan olahan susu.   

Masalahnya migor dipicu oleh kenaikan harga pasar dunia naik berkali lipat, sehingga harga di dalam negeri menjadi naik tinggi dan di luar kemampuan daya beli utamanya untuk produk migor curah bagi masyarakat berpendapatan rendah.  Disinilah dimulainya kekacauan perdagangan migor, yang sebenarnya menurut saya solusi awalnya dengan mekanisme subsidi sudah pas, asal mekanisme dan sistem distribusi dikawal, namun perkembangannya menjadi masalah yang komplek. Tapi saya percaya pada saatnya akan ada solusi yang baik, barangkali setelah lebaran semua sudah menjadi normal. Dengan penjelasan diatas maka istilah mafia atau istilah-istilah lain silahkan artikan masing-masing.

SI: Bagaimana dengan perspektif bisnis internasionalnya?

PW: Pertama, pernah saya sampaikan, Indonesia itu memiliki areal sawit terluas di dunia, yaitu seluas 18 juta hektar, produsen CPO terbesar sekitar 48 juta ton atau sekitar 58 % produk CPO dunia, eksportir terbesar sekitar 34 juta ton  Minyak sawit di pasar dunia berkontribusi dalam produksi minyak nabati di sekitar 33 %, berkontribusi dalam konsumsi minyak nabati dunia sekitar 40 persen  dan berkontribusi pada ekspor minyak nabati dunia sekitar 55  %. Minyak sawit menjadi kontributor terbesar untuk produksi, konsumsi dan ekspor minyak nabati di dunia.

Kedua, minyak nabati berbasis sawit memiliki industri turunan yang sangat banyak, yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, rapeseed. bunga matahari, kanola dll. Sawit akan menyedikan kebutuhan baku bagi produk-produk kebutuhan hidup sehari-hari.  Prediksi krisis pangan oleh karena perubahan iklim, barangkali sawit akan menjadi penyelamat pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia. Berkontribusi pada pangan dunia  “food for nation”.

Ketiga, minyak sawit menjadi bahan baku untuk energi terbarukan yang paling efisien, energi masa depan untuk mengatasi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim. Sawit berkontribusi pada penyediaan bahan baku energi terbarukan untuk dunia “renewable energy for nation”.

Data-data tersebut menujukkan Indonesia memiliki peluang untuk mengelola dan mengatur pasar minyak nabati dan pada khususnya minyak sawit di pasar dunia.

Saat ini banyak orang baru tersadar bahwa peran dan kontribusi Indonesia di pasar dunia luar biasa, kebijakan larangan ekspor minyak sawit telah menjadi kekacauan bisnis di pasar minyak nabati dunia utamanya minyak sawit. Apalagi dibarengi krisis suplai minyak nabati dari bunga matahari akibat perang Rusia-Ukraina. 

Larangan ekspor menyadarkan bahwa Indonesia adalah pemain global yang menguasai minyak nabati khususnya minyak sawit. Indonesia berpeluang untuk menjadi pemain utama dan mengatur dan penentu pasar minyak nabati khususnya minyak sawit dunia. Apakah dengan kondisi ini, Indonesia akhirnya bisa menjadi pemain utama, pengatur minyak sawit dunia? Belum tentu. Kesadaran kita,  peluang Indonesia menjadi pengatur pasar minyak sawit dunia akan terjadi kalau kita mampu memerankan secara cerdas melalui kebijakan-kebijakan mengarah pada penguatan di pasar dunia? Apakah kebijakan saat ini telah mengarahkan ke sana? Bukankah kebijakan larangan ekspor saat ini lebih untuk tatakelola pasar domestik? Setelah krisis minyak goreng dalam negeri selesai, sebaiknya konsentrasi kita untuk menjadikan Indonesia pemain utama pasar global minyak nabati dan minyak sawit dunia.

Indonesia berpeluang menjadi penentu dan pengatur pasar minyak nabati khususnya minyak sawit di dunia, jika kita mampu memperkuat jaringan rantai pasok dunia dengan kemampuan membangun industri hilir yang kuat di dalam negeri, membangun dan menguasai rantai pasok utamanya produk turunan kelapa sawit.

Sawit adalah anugerah Tuhan untuk Indonesia, manfaatkan untuk kesejahteraan bangsa serta kontribusi untuk pangan bagi dunia serta energi terbarukan bagi dunia.

        #MarilahKitaRawatSawitKita

Share.

Comments are closed.