Setelah biodiesel, kini masyarakat Indonesia dapat menikmati bensin dari sawit. Mempunyai nilai Research Octane Number sangat tinggi. Berpeluang digunakan untuk mobil F1 dan Moto GP.

Katalis Merah Putih menjadi jembatan bagi Indonesia untuk menghasilkan bahan bakar. Riset ini dikembangkan lima tim ahli kimia dan industri ITB, yaitu Prof. Dr. Subagjo, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja, Dr. Melia Laniwati Gunawan, Dr. IGBN Makertiharta dan Dr. C. B. Rasrendra. Dari katalis inilah Indonesia dapat memproduksi bensin dan avtur berbahan minyak nabati seperti sawit.

Presiden Joko Widodo pernah mengatakan Indonesia dapat mengurangi impor minyak gas melalui penggunaan bahan baku dar idalam negeri. Dengan menggunakan katalis, maka Indonesia berpeluang menghasilkan bensin yang diolah 100% dari sawit.

Prof. Subagjo, menjelaskan bahwa katalis ini dapat mengantarkan bangsa Indonesia mandiri dalam teknologi proses. “Penggunaan katalis untuk konversi sawit menjadi BBN, bisa menjadikan kita sebagai bangsa yang mandiri di bidang energi, sehingga tidak tergantung kepada asing” tegasnya.

Selain itu, dengan katalis tersebut, sawit yang begitu melimpah di Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga tidak ada yang terbuang, karena pembuatan BBN dengan penggunaan katalis ini dapat memakai atau menggunakan sawit dalam kondisi apapun.

Memasuki 2022,  Pusat Rekayasa Katalisis, Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berhasil mengembangkan teknologi katalis dan membangun unit percontohan produksi bensin biohidro karbon dengan bahan baku dasar minyak kelapa sawit.

Demonstrasi produksi dengan nama Bensa (Bensin Sawit) ini dilaksanakan pada 11 Januari 2022 bertempat di Workshop PT Pura Engineering, Kudus, Jawa Tengah. Saat demonstrasi tersebut dilakukan juga uji coba Bensa terhadap kendaraan roda dua dan roda empat dan hasilnya Bensa dapat bekerja dengan baik sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Unit demo ini mengkonversi minyak sawit industrial (industrial vegetable oil, IVO) menjadi bensin sawit melalui proses perengkahan yang dikembangkan oleh Pusat Rekayasa Katalisis ITB (PRK ITB), Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis ITB (LTRKK ITB), Program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi (TBE) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Subagjo. Proses konversi IVO menjadi bensin sawit dilaksanakan dalam reaktor menggunakan katalis berbasis zeolit yang juga dikembangkan oleh PRK ITB dan LTRKK ITB.

Indonesia sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia yang saat ini memproduksi 49 juta ton CPO/tahun, dan pada saat yang sama Indonesia adalah negara perngimpor bahan bakar bensin terbesar kedua di dunia, sangat berkepentingan untuk mengembangkan teknologi produksi bensin sawit.

“Berdasarkan instruksi dariPresiden Joko Widodo, kita harus mengolah CPO terlebih dahulu sebelum diekspor karena produksi kita banyak. Untuk itu kami mencoba mengolah CPO menjadi IVO. Unit demo dengan skala 6-7 ton per jam telah dibangun dan saat ini ditempatkan di Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA), Sumatera Selatan” ujar Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S. dari KK Teknologi Reaksi Kimia dan Katalis – FTI ,anggota tim Katalis Merah Putih kepada Humas ITB, Kamis (13/1/2022).

IVO dipakai sebagai bahan baku untuk membuat Bensa di unit percontohan produksi bensa. Konversi IVO menjadi bensin maka membutuhkan katalisator. Sehingga perlu reaktor yang memproduksi katalis. “Dengan dana dari BPDPKS kita juga membuat set unit reaktor untuk memproduksi katalisnya. Pabrik Katalis dengan skala 40-50 kg per batch ditempatkan di Kampus ITB Ganesa ,” ujar Dr. Melia. Formula dan prosedur pembuatan katalis merupakan hasil penelitian Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 123)

Share.