Tanah Harapan Elaeis (Bagian XXXIII)

Yang sudah berniat pulang kampung pasti melegokaplingannya. Siapa saja yang mau membeli kaplingan itu meski seharga ongkos pulang kampung, tak jadi soal. Kejadian semacam inilah yang menjadi cikal bakal warga transmigrasi ada yang punya kaplingan lebih dari satu kapling. Konversi serah terima sertifikat tanda kredit sudah lunas pun tiba. Kehidupan Mono berangsur berubah. Sebab penghasilan kelapa sawit kian meroket. Harga minyak kelapa sawit dipasar dunia lagi tinggi-tingginya.

Namun lantaran konversi sudah usai, Mono sudah harus mengurusi kebun sendiri. Pengalaman yang didapat dari bapak angkat dan dari hasil binaan Kopersai Unit Desa (KUD) di desannya, membuat Monosudah tak cangung lagi ngurusi lahan sendiri. Ditahun 2005, satu kapling lahan plasma sudah bernilai jual Rp. 85 juta dengan hasil rata-rata TBS antara 3-4 ton sebulan. Kalau harga kelapa sawit saat itu Rp. 700 perkilogram dan produksi Mono 3,5 ton, berarti dia sudah punya pendapatan Rp. 2,45 juta sebulan.

Tapi tak semua duit itu masuk kekocek Mono. Ada sejumlah kewajiban yang mesti  dibayarkan. Misalnya urusan pembayaran Iuran Dana Peremajaan Tanaman Kebun (IDAPERTABUN) yang nominalnya Rp. 113.500. Lalu ada lagi dana perawatan yang meski jadwalnya Cuma sekali tiga bulan. Uang itu untuk membeli urea, Kicrit, KCL dan NPK. Kalau dihitung-hitung, adalah Rp. 350 ribu yang meski disisikan oleh Mono setiap bulan. Jadi setelah dipotong ini itu, bisalah mono mengantongi duit Rp. 1,4 juta setiap bulannya.

Penulis : Abdul Aziz

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like