Nufarm One Stop Solution Pengendalian Hama Kelapa Sawit

Menjelang penghujung Maret 2016, PT Nufarm Indonesia mengadakan seminar dan consumer gathering  bertemakan “Crop Protection Based on Environmentally-Friendly Technology”  dengan tujuan  menyampaikan alternative solusi perlindungan tanaman kepada pelaku industri perkelapa sawitan dan memberikan informasi terkini terkait produk pestisida PT Nufarm Indonesia.

Dalam kata sambutannya, Alwi Assagaf, President Director PT Nufarm Indonesia, menjelaskan bahwa  perkebunan kelapa sawit  dengan luasan lebih dari 10 juta hektar, merupakan salah satu penyumbang ekspor dan devisa terbesar serta peranan perkebunan kelapa sawit yang demikian penting menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari semua pemangku kepentingan (stake holder) atas keberlanjutan bisnis, lingkungan dan keamanan produk-produk yang digunakannya.

Nufarm adalah salah satu perusahaan agrokimia global terbesar di dunia yang berkantor pusat di Australia yang beroperasi pada lebih dari 100 negara, baik di USA, Kanada, Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Australia dan Asia. Sebagai salah satu pemain besar dalam industri agrokimia di Indonesia maka PT Nufarm Indonesia terpanggil untuk memberikan solusi perlindungan  tanaman yang terbaik bagi perkebunan kelapa sawit dengan produk terbarunya yaitu DiPeL SC yang merupakan produk primadona bagi pengelolaan dan pengendalian hama ulat api (Setothosea sp, Setora nitens dll) dan ulat penggerek tandan buah (Tirathaba sp.) yang ramah lingkungan, kata Alwi.

DiPel SC mengandung bahan aktif Bacillus thuringiensis var. kurstaki. DiPel SC berisi lima kristal protein (Cry) dan spora. Kristal protein ini bersifat mudah larut dan aktif menjadi menjadi toksik, terutama setelah masuk ke dalam saluran pencernaan hama ulat. Protein atau toksin Cry tersebut akan dilepas bersamaan dengan spora ketika terjadi pemecahan dinding sel usus. Apabila DiPel SC termakan oleh larva Lepidoptera, maka larva akan menjadi inaktif, berhenti makan, selanjutnya, larva menjadi lembek dan mati dalam hitungan hari.

Dalam paparannya berdasarkan hasil kajian dan penggunaan di lapangan, Dr Ir Agus Susanto, peneliti senior dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit menyampaikan bahwa DiPel SC efektif untuk pengendalian ulat penggerek tandan buah (Tirathaba sp.) dan dapat menaikkan angka “fruit set” kelapa sawit, hasil tandan buah sawit (FFB) tanpa menimbulkan efek terhadap kumbang penyerbuk buah (Elaeidobius sp). Demikian juga efektivitas DiPel SC terhadap pengendalian UPDKS seperti ulat api (Setora nitens, Setothosea asigna) dan ulat kantong (Clania tertia) disampaikan oleh Dr Ir Sudharto, peneliti senior dibidang kelapa sawit dalam paparannya “Dipel SC dapat diaplikasikan dengan bio-fogger  K-22 Bio tanpa ada masalah penyumbatan nosel sampai dengan takaran 1.000 ml Dipel SC per tanki kapasitas 5.000 ml. Dipel SC efektif untuk mengendalikan ulat api (dosis 350 ml DiPel SC/ha) dan ulat kantong (dosis 500 ml DiPel SC/ha) dan  menunjukkan indikasi aman bagi serangga musuh alami dari ulat pemakan daun kelapa sawit”

Alwi menambahkan bahwa DiPel SC merupakan produk dengan teknologi ramah lingkungan yang menjadi solusi atas masalah ulat api dan ulat penggerek tandan buah kelapa sawit (Tirathaba sp) dengan hasil yang memuaskan, aman bagi serangga alami dan juga serangga penyerbuk yang sangat dibutuhkan (Elaeidobius sp.). DiPel SC  menjadi salah satu insektisida yang sejalan dengan prinsip sustainable industri sawit seperti RSPO dan ISPO,” lanjut Alwi. (Anggar)

(Selengkapnya Majalah SAWIT INDONESIA Edisi 15 Maret-15 April 2016)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.