RODENSIA PERUSAK DI DALAM EKOSISTEM SAWIT

Penulis: Dzulhelmi Nasir & Nursyereen Nasir

Kontribusi Foto: Ana Mendes do Carmo, Carol Diane Hughes, James Maughn, Benjamin Ong & Ronald Yip

Terdapat dua cara yang digunakan untuk membasmi masalah hewan perusak, yaitu  langkah pengendalian secara kimia dan secara biologi. Langkah yang diambil adalah untuk menjamin pertumbuhan pohon kelapa sawit  tetap bagus dan mengurangi kerugian. Dengan pengendalian kimiawi menggunakan rodentisida atau umpan racun seperti warfarin, brodifacoum, bromadiolone dan flocoumafen merupakan  cara yang paling bagus dan kerap digunakan untuk mengendalikan hama perusak rodensia. Umpan racun digunakan pada tahap awal penanaman semula agar investasi tetap efisien sehingga penggunaan umpan yang intensif dapat dielakkan. Walau bagaimanapun, efek daripada keracunan makhluk lain dan ketahanan rodensia sasaran terhadap umpan harus dipertimbangkan. Tikus rumah telah berpengalaman dan  mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap warfarin. Oleh karena itu, adanya efek sampingan kepada hewan maupun makhluk lain di luar hama terutamanya pemangsa seperti burung hantu putih dan hewan karnivor kecil yang lain. Keracunan sekunder berlaku apabila pemangsa ini memakan tikus-tikus yang berketahanan tinggi terhadapat racun dan telah memakan umpan racun berulang kali. Akan tetapi, laporan mengatakan burung hantu putih yang memakan tikus sebagai makanan utamanya telah membina toleransi  terhadap bahan penggumpal generasi pertama yang digunakan di dalam racun tikus.

Baca Juga :   Penuhi 5 Syarat, BPDP Sawit Biayai Replanting Petani Riau

Sementara itu, langkah kawalan biologi dengan penggunaan kotak sarang untuk burung hantu putih (Tyto alba) adalah sangat praktikal di ladang kelapa sawit. Burung hantu putih mempunyai potensi untuk menjadi langkah pengendalian  yang bagus dalam membasmi tikus karena  sifat tingkah lakunya dan sejarah hidupnya. Contohnya, burung hantu putih mampu membiak dengan cepat apabila keberadaan mangsanya meningkat, memburu dengan sangat cekap, dan hanya memburu di dalam kawasan pemburuan yang kecil. Satu kotak sarang burung hantu putih sudah memadai untuk mengawal makhluk perusak rodensia di dalam lima ke sepuluh hektar kawasan ladang. Makhluk perusak ini menjadi sumber makanan utama dan secara langsung mengawal dan mengurangkan jumlah makhluk perusak rodensia. Teknik menggunakan burung hantu putih ini berkos rendah dan mesra alam semulajadi. Akan tetapi, walaupun burung hantu putih sebagai langkah kawalan biologi adalah sangat berkesan, langkah ini mempunyai kelemahannya. Burung hantu putih adalah bersifat oportunistik dan boleh menukar mangsanya kepada burung-burung lain, katak dan juga serangga. Ia mungkin memilih mangsa berdasarkan saiz; ini bermakna ia tidak lagi memilih rodensia bersaiz besar sebagai mangsanya. Burung hantu putih tidak mampu untuk mengawal populasi rodensia perusak apabila infestasi adalah pada kadar yang sangat tinggi. Namun begitu, pemangsaan daripada burung hantu putih, seiring dengan kewujudan pemangsa semulajadi yang lain seperti kucing hutan, musang, biawak, dan ular yang juga memakan rodensia perusak membantu untuk mengurangkan jumlah hewan perusak ini. Hewan berbisa seperti ular adalah satu lagi cara untuk mengurangkan populasi rodensia. Akan tetapi, isu-isu lain pula akan timbul. Ular mempunyai risiko keselamatan terhadap pekerja buruh. Oleh itu, ular kurang sesuai di dalam program kawalan biologi. Hewan-hewan lain yang berpotensi seperti kucing hutan, musang, dan biawak pula perlu diselidik dengan lebih lanjut sebagai agen kawalan biologi.

Baca Juga :   Indonesia Lobi Bea Masuk Sawit India
0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like