Produsen Chocolate Monggo Klaim Sawit Tidak Sehat

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Produsen Chocolate Monggo diduga membuat informasi negatif mengenai kelapa sawit yang merugikan imej komoditas ini. Tim redaksi menemukan informasi negatif sawit di dalam profil perusahaan Chocolate Monggo, yang merupakan brand dari produk coklat perusahaan joint venture antara PT Anugerah Mulia Sentosa dan PT Anugerah Mulia Indobe.

Thierry Detournay, warga negara Belgia, adalah pendiri dan pemilik Chocolate Monggo. Dalam profil perusahaan yang dicantumkan dalam website perusahaan disebutkan In compound, the cocoa butter is replaced by much cheaper vegetable oil, mostly palm oil. Because of the missing cocoa butter, compound is easier to produce. Why we don’t use compound ar Monggo. Compound is not as tasty and nutritious as real chocolate is, because the most important ingredient, cocoa butter is missing. Instead compound mostly uses palm oil which is responsible for large scale forest conversion . Besides, palm oil is not healthy due to high amounts of saturated fat.

Melalui keterangan tersebut, produsen Chocolate Monggo ingin mengatakan penggunaan coklat compound dapat merusak rasa dan nutrisi di dalam coklat asli. Yang menjadi masalah, produsen Chocolate Monggo menuding coklat compound yang berasal dari minyak sawit tidak sehat karena tinggi lemak jenuh (saturated fats). Tuduhan lainnya adalah kelapa sawit diklaim harus bertanggung jawab atas konversi hutan dalam skala besar.

Baca Juga :   Januari 2020, Bea Keluar CPO Tetap Nol

Yang sangat disayangkan informasi ini sangatlah bias dan ambigu. Tidak ada rujukan data ilmiah dan referensi khusus yang mendukung pernyataan produsen Chocolate Monggo berkaitan tuduhan terhadap kelapa sawit. Bias informasi ini bisa berdampak negatif kepada komoditas penghasil devisa dan termasuk para pelaku industri di dalamnya mulai perusahaan sampai petani.

Laporan perusahaan Chocolate Monggo yang menuduh sawit harus bertanggungjawab atas konversi hutan dan tidak menyehatkan.

Sebagai perbandingan, Puncak deforestasi terjadi pada periode 1950-1985 dan 1985-2000 yaitu sebesar 42 juta hektare (ha) dan 16 juta ha, sementara ekspansi lahan untuk kelapa sawit hanya satu juta ha dan tiga juta ha dalam periode yang sama.

Prof. Yanto Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, mengatakan konversi lahan perkebunan kelapa sawit hingga 2010 yaitu sekitar delapan juta ha, 5,5 juta ha di antaranya berasal dari konversi lahan pertanian dan lahan terlantar. Sementara, 2,6 juta ha merupakan hasil dari konversi hutan produksi.

Baca Juga :   Peluang dan Tantangan Sertifikasi ISPO di Masa Pandemi

Sehingga ia menyimpulkan perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab langsung deforestasi, bahkan konversi lahan kelapa sawit dapat dikategorikan sebagai penghijauan kembali atau rehabilitasi lahan yang semula telah terdegradasi.

Sementara itu, Prof. Nuri Andarwulan, Direktur SEAFAS, memaparkan minyak sawit mempunyai kandungan gizi seperti karoten (Vitamin A), tokoferol dan tokotrienol (Vitamin E) yang sangat tinggi sehingga mengandung zat antioksidan. “Dibandingkan minyak kedelai, kandungan tokotrienol minyak sawit dua kali lebih banyak,” pungkasnya.

 

Sumber foto: laporan perusahaan Chocolate Monggo 

9 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like