Petani Sawit: Walhi Jangan Cari Panggung Saat Bencana

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Petani sawit merasa geram dengan tuduhan Walhi, LSM Lingkungan Hidup, yang ditujukan kepada perkebunan sawit. Pasalnya,banjir di Kalimantan Selatan disebabkan tingginya curah hujan selama seminggu terakhir.

“Walhi seenaknya tuduh kebun sawit penyebab banjir. Salah besar itu, tidak benar. Asal bicara saja (Walhi),” ujar Samsul Bahri, petani sawit yang tinggal di Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Samsul menjelaskan selama hidup di Bumi Lambung Mangkurat baru kali ini banjir besar terjadi. Selama seminggu, curah hujan sangat tinggi. Ditambah lagi, sungai menjadi dangkat akibat praktik pertambangan. Kondisi inilah yang membuat air meluap. Sungai tidak dapat menampung tingginya debit air.

Pemerintah seperti dilansir dari laman setkab.go.id, menjelaskan bahwa Banjir di Provinsi Kalimantan Selatan kali ini terjadi di hampir 10 kabupaten dan kota akibat luapan Sungai Barito karena curah hujan yang yang sangat tinggi selama hampir 10 hari berturut-turut. Sungai tersebut dapat menampung 230 juta meter kubik, namun akibat curah hujan yang tinggi ini jumlah debit air yang masuk mencapai 2,1 miliar meter kubik sehingga tidak tertampung dan meluap di 10 kabupaten dan kota.

Samsul mengatakan perkebunan sawit ikut menjaga membantu lingkungan dengan merehabilitasi lahan bekas HPH. “Kami petani ini tanam pohon (sawit). Bukannya mengeruk tanah lalu membuat lubang dan ditinggalkan begitu saja,” jelas Samsul yang juga Ketua DPW APKASINDO Kalsel.

Samsul menyayangkan pernyatan Walhi tanpa kajian ilmiah yang langsung menuduh perkebunan sawit memicu banjir. “Di Pulau Jawa, banjir bandang juga terjadi. Lalu, apa disana ada kebun sawit. Mungkin kalau ada, langsung dituduh sawit pemicu banjir di Jawa,” ujarnya kesal.

Ia pun mengecam pernyataan Walhi yang menyudutkan kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kalsel. Padahal, banyak masyarakat Kalsel mengapresiasi kehadiran Jokowi. Mengingat, Presiden langsung memberikan instruksi kepada kementerian terkait dan pemerintah daerah dalam upaya membantu korban terdampak banjir.

“Di bencana seperti ini, kita harus saling membantu sesama. Bukannya cari kambing hitam dan saling menuduh seperti Walhi lakukan. Kami petani walaupun korban juga membantu warga lain. Walhi sudah lakukan apa?” tanya Samsul.

Seperti dilansir dari laman tempo.co, Direktur Walhi  Kalsel, Kisworo, mengutarakan sangat kecewa dengan pernyataan Presiden Jokowi yang menilai banjir akibat curah hujan tinggi. “Kalau hanya menyalahkan hujan mending enggak usah ke sini,” kata Kisworo.

Menurut Samsul, sudah banyak petani yang berhasil mengembangkan perkebunan sawit. sekarang ini, perkembangan petani sudah sangat pesat ini terbukti pembangunan pabrik sawit miliki petani. Harapannya, tahun ini pabrik dapat beroperasi dan mengolah hasil panen petani.

“Walhi ini tidak senang sawit berhasil. Kami petani yang merasakan manfaat kebun. Justru sawit mampu serap air dan mencegah longsor. Kalau Walhi masih jelekkan sawit, ayo ketemu saya. Kita turun lapangan bareng untuk lihat fakta sesungguhnya,” tegas Samsul.

Dikatakan Samsul, dalam benak mereka ini pokok nya bagaimana menekan sawit, “Tapi jangan lupa, kami petani sawit siap di garda terdepan untuk menjelaskan betapa pentingnya sawit dalam kaidah hubungan sawit dengan ekonomi, lingkungan dan sosial. Ya mungkin, Walhi ini tidak pernah bermasyarakat sosial,” ujar Samsul.

Sementara itu, Dr.Ir. Arief Rahmad Maulana Akbar, M.Si., Wakil Dekan Akademik Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) menyatakan  tuduhan bahwa sawit penyebab banjir di Kalsel tidak mendasar karena lokasi banjir awal di daerah Pengaron, Kabupaten Banjar yang  paling awal terendan hampir sebulan.

 

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like