Dalam kerangka kegiatan pemuliaan untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya genetik, Sobir menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat pengembangan varietas di masa perubahan iklim karena memiliki potensi genetik tinggi sehingga banyak keragaman genetik baru dapat dikembangkan, penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun sehingga siklus pemuliaan dapat dilakukan lebih cepat (1 tahun 3 siklus), iklim panas dan lembab (serangan hama dan penyakit tinggi sepanjang tahun, sehingga bisa jadi lingkungan seleksi yang ketat bagi cekaman biotik), dan keragaman ekosistem tinggi sehingga pengujian atau seleksi toleransi terhadap cekaman abiotik dapat lebih efektif.
Selain itu, Retno Hulupi menegaskan perlunya kehati-hatian dalam memberikan tanda daftar untuk tanaman perkebunan. “Masih harus dilakukan pengujian sederhana, khususnya varietas lokal yang telah dikembangkan sebelumnya. Hal ini terutama untuk varietas yang diperbanyak secara klonal seperti tebu, karet, dll,” ujarnya. Retno kemudian memaparkan pengalamannya dalam melaksanakan pemuliaan partisipatif beberapa varietas lokal tanaman perkebunan, seperti kopi, teh,dan cengkeh.
Terakhir, untuk pelepasan tanaman pakan, Luki menyampaikan bahwa saat ini masih sedikit yang telah dilepas sehingga menjadikan pelepasan varietas ini mendesak untuk dilakukan seiring dengan terus meningkatnya permintaan. Hijauan pakan ternak dapat menekan biaya pakan ketika harga bahan pakan biji-bijian, serealia, dan limbah agroindustri terus meningkat. Ia kemudian menjabarkan parameter uji dan teknik pengumpulan data pengujian tanaman pakan.
Sumber: pertanian.go.id

