Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian LXXXIII)

“Saoal ini saya tahu sendiri. Ketika saya mendirikan pabrik pengolahan inti sawit, tangki penyimpanan PKO tidak memakai pemanas,” kata saya. Senada dengan saya, We Fang Peng dari Johore Bulkers Station berpendapat bahwa memang PKO tidak perlu dipanasi. Perusahaanya yang beroperasi di Psair Gudang, Malaysia, setiap hari menampung, menyimpan dan mengapalkan minyak inti sawit. Akhirnya disimpulakan bahwa masalah ini sebaiknya diserahkan kepada setiap organisasi anggota seperti GAPKI, Poram, dan juga yang lain. Masing-masing boleh mengambil langkah. Tetapi AVOC yang hanya punya status peninjau tidak akan mungkin mengusulkan perubahan kepada Codex.

Soal itu kemudian dibahas dalam rapat GAPKI. Musim Mas yang diwakili Surja sangat setuju. Dia jelaskan dalam prakteknya pemanasan itu merusak mutu. Satu tangki yang berisi 1.000 ton PKO harus dipanaskan ketika sebuah kapal datang untuk memuat 300 ton. Setelah beberapa ahari kemudian suhu turun lagi dibawah 40oc dan harus dipanasi lagi karena kapal kedua harus mengambil 250 ton. Jelas ini sangat tidak efisien dan pemborosan. Mutu Pko yang bolak balik dipanasi juga akan menurun.

Pengurus GAPKI setuju agar perubahan klusul tetang suhu untuk pemanasan minyk inti sawit diajukan kepada Codex. Usul itu akan diajukan pada sidang Codex lanjutan yang diselengarakan di Jenewa. Sidang Codex terkenal berlapis-lapis. Sebelum dijadikan keputusan yang diterima resmi, sebuah gagasan harus melewati beberapa tahap persidangan. Usulan biasanya dibawa kesidang komite dulu sebelum dibawa kesidang pleno. Sidang pleno biasanya dilakukan di Roma.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like