Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXLVIII)

Pembagian tugas ini memang tidaklah mudah. Hal-hal prinsipil di dalam organisasi harus tetap diurus oleh ketua umum. Kegiatan sehari-hari organisasi menjadi tanggungjawab ketua harian. Setiap pekerjaan yang membutuhkan ketua umum, maka ketua terpilih kelak harus menangani langsung. Ternyata Akmaluddin menyetujui usulan saya.

“Ooo…. bagus. Itu akan saya usulkan”, kata Akmaludiin.

Untuk membawa usulan tersebut, kembali diadakan pertemuan. Saya sendiri tidak ikut campur dalam pertemuan itu.  Ada beberapa kelompok yang turut berkumpul. Akmaluddin Hasibuan didampingi Amri Siregar, Arifin Kamdi dari PT. Paya Pinang, serta orang-orang dari PTPN memobilisasi dukungan. Dalam pertemuan iti dibicarakan usulan saya sebagai jalan tengah mengatasi kebuntuan pemilihan Ketua Umum GAPKI yang baru. Pembicaraan sempat alot. Ada beberapa pihak yang bertahan. Saya ditelepon umtuk bergabung dalam rapat. Ini sebenarnya bukan rapat, hanya konsultasi. Jadi sifatnya seperti lobi.

Setelah saya duduk, berkata Akmaluddin, “Tadi mereka bilang, bisa saya jadi ketua umum, Pak Derom ikut, hanya belum tahu apa istilahnya”. Saya bilang, untuk menyesuaikan dengan kelincahan organisasi, istilah ketua harian yang paling tepat. Benny Tjung dari Astra Agro Lestari dan Teguh Patriawan dari Sinar Mas mengusulkan agar istilah akan dicarai kemudian. Yang penting Akmaluddin Hasibuan bersedia menjadi ketua umum dan Derom Bangun ikut dalam pengurusan. “Nanti kita cari istilah yang tepat”, usul Teguh.

“Harus diputuskan sekarang. Tidak mungkin ada istilah lain”, teagas saya. Seperti itulah akhirnya diputuskan. Akmaluddin terpilih menjadi ketua umum dan saya ditetapkan menjadi ketua harian untuk kepengurusan 2006-2009. Sebagai ketua umum yang telah usai maksa bakti, saya menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada peserta.

Sumber : Derom Bangun

No tags for this post.

Related posts

You May Also Like