Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (Bagian CXCVI)

Ketika pabrik selesai dibangun, saya kembali dipercaya menjadi MC sekaligus memberikan penjelasan kepada Menteri Pertanian RI Sudarsono dan disaksikan W. Dell, Komisaris Utama Danardoyo di pabrik Tanah Gambus pada 1982. Kunjungan menteri itu menjadi bukti bahwa industri sawit menempati posisi penting sebagai sebagai penghasil devisa negara. Dan kini, sawit Indonesia semakin diperhitungkan oleh dunia.

MODERNISASI MESIN PABRIK SOCFINDO

Sampai tahun 1970 semua pabrik kelapa sawit di Indonesia masih menggunakan mesin kempa hidrolik atau hydraulic press. Begitu pula dengan pabrik-pabrik milik socfindo yang ada sejak zaman penjajahan Belanda. Semua masih menggunakan mein kuno, sampai kemudian ditemuakan mesin baru yang lebih modern. Penemuan screw press atau mesin pres yang berulir memiliki keunggulan lebih baik ketimbang mesin hydraulic press. Minyak hasil pres hidrolik lebih sedikit dari mesi ulir.

Pada tanggal 6-8 November 1969 saya mendapat tugas pertama dinas ke luar negeri, ke Kuala Lumpur, Malaysia. Kunjungan itu bertujuan untuk mengikuti simposium tentang manajemen perkebunan sawit. Pada acara itulah saya telah mendengar sendiri perdebatan antara Ir. J. Olie dari perusahaan de Stork pabrik kempa hidrolik yang berpusat di Belanda dengan Dato’B. Bek Nielsen yang mempromosikan mesin ulir dari merek Usine de Wecker dari Liksemburg. Masing-masing membawa makalah dengan argumentasi kuat.

Sumber : Derom Bangun

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like