Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 100 Tahun NKRI (Bagian CLXXVIII)

Oleh sebab itu pemanfaatan degraded land untuk perkebunan kelapa sawit pada kawasan hutan produksi tetap maupun hutan produksi yang dapat dikonversi dapat menjadi bagian dari solusi restorasi ekosistem. Tentu saja untuk degraded land yang ada dikawasanlindung dan hutan konversi sebaiknya tidak dikonversi pada penggunaan lain, dipertahankan dan direhabilitasi untuk memperbaiki fungsi hutan lindung dan hutan konservasi.

Meskipun ketersediaan lahan untuk perluasan areal perkebunan kelapa sawit masih tersedia sampai pada luasan tertentu, dimana yang akan datang diharapkan peningkatan produktivitas CPO per hektar lahan menjadi andalan sumber pertumbuhan produksi CPO Indonesia. Sumber pertumbuhan produksi CPO dari produktivitas dipandang lebih berkualitas karena: (1) Sumber pertumbuhan CPO dari produktivitas lebih sustainable dan lebih menguntungkan; (2) Dapat meminumkan konflik sosial maupun konflik antar sektor; (3) Mengurangi ketergantungan pada kebaikan alam dan dampak perubahan iklim dalam produksi CPO nasional dan (4) Menjaga keseimbangan pertumbuhan sektor-sektor pembangunan secara nasional.

Pandangan yang demikian telah lama disadari pelaku persawitan di Indonesia. Oleh karena itu pada acara peringatan 100 tahun perkebunan kelapa sawit Indonesia tahun 2011 di Medan, telah disepakati untuk mengejar produktivitas yakni 35 ton TBS/Ha dengan rendemen 26 persen (dikenal dengan target 35-26) atau produktivitas CPO sekitar 9 ton CPO/Ha.

Sumber : GAPKI

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like