Ekspor Sawit Melemah, Pasar Domestik Jadi Tumpuan

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penurunan ekspor sawit di bulan Mei sebesar 8 persen menjadi 2,428 juta ton. Pelemahan ekspor terjadi di negara tujuan utama seperti Tiongkok, Uni Eropa, Pakistan, dan India.

“Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI, dalam keterangan tertulis.

Dalam data GAPKI, penurunan ekspor bulan Mei terbesar terjadi dengan tujuan China sebesar 87,7 ribu ton (-21%), ke EU sebesar 81,5 ribu ton (-16,62%), ke Pakistan sebesar 47 ribu ton (-23,4%) dan ke India sebesar 38,6 ribu ton (-9,2%). Penurunan ekspor ke China mungkin juga disebabkan meningkatnya crushing oilseed (khususnya kedelai) yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati China tinggi.

Meskipun terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir dengan 42 ribu ton atau naik 81% dari ekspor April 2020, Ukraina dengan 31 ribu ton (+99%), Filipina dengan 29 ribu ton (+73%), Jepang dengan 19 ribu ton (+35%) dan ke Oman sebanyak 15 ribu ton (+85%).

Dibandingkan dengan bulan April 2020, produksi CPO pada bulan Mei sebesar adalah 3,616 ribu ton atau turun 1,9%, konsumsi dalam negeri turun 1,6% menjadi 1.380 ribu ton, ekspor turun 8,3% menjadi 2.428 ribu ton, dan harga CPO masih menunjukkan penurunan dari rata-rata USD 564 pada bulan April menjadi USD 526 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Mei. Demikian juga dengan nilai ekspornya turun USD 165 juta dari USD 1,64 milyar menjadi USD 1,47 miliar.

Apabila dibandingkan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan PKO Januari-Mei 2020 adalah 19,001 juta ton atau 14% lebih rendah, konsumsi dalam negeri adalah 7,334 juta ton atau naik 3,6 %, volume ekspor adalah 12.736 ribu ton atau turun 13,7% tetapi nilai ekspornya naik dari USD 7,995 miliar menjadi USD 8,437 miliar.  Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman.

“Konsumsi dalam negeri secara total masih positif ditengah berlakunya PSBB. Salah satu peningkat konsumsi adalah oleokimia yang naik 31,4% . Konsumsi biodiesel juga meningkat sebesar 23,2%. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang konsisten dalam implementasi program B30,” ujar Mukti.

Kegiatan ekonomi China, India dan banyak negara lain mulai pulih sehingga permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya mulai naik. Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga kedepan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

ALSI Dukung Penuh Penerapan ISPO

Asosiasi Lembaga Sertifikasi Indonesia (ALSI)  mendukung program Indonesian Sustainability Palm Oil (ISPO). ALSI adalah organisasi yang beranggotakan Lembaga…