Edisi 22 Agustus 2013

Tanaman Masa Depan

Ibarat bola yang ditekan di dalam air, industri kelapa menghadapi banyak tekanan yang berasal dari isu negatif. Mulai dari isu kebakaran, gaji karyawan,deforestasi dan kerusakan lingkungan yang kesemuanya digeneralisir akibat kehadiran industri sawit. Padahal, kelapa sawit ini bukanlah kutukan yang datang dari langit maupun ancaman bagi kehidupan di dunia ini. Tanaman yang berasal dari Afrika awalnya dipandang sebelah mata karena dinilai sebagai tanaman biasa saja. Namun, setelah kelapa sawit mulai dibudidayakan secara serius dan dikembangkan dengan teknologi kuat, ternyata kelapa sawit membuat masyarakat dunia tercengang. Keunggulan tanaman ini melebih minyak nabati lain dari aspek produktivitas yang diatas 3 ton  per hektare. Begitupula, biaya produksi sangatlah kompetitif sekitar US$ 200 per ton. 

Pengolahan limbah kelapa sawit merupakan zero waste atau tanpa menghasilkan limbah. Limbah cair ini kelapa sawit dapat dijadikan pupuk organik. Sedangkan limbah padat kelapa sawit seperti janjang kosong dan fibre merupakan bahan baku bagi pembangkit listrik. Tak hanya itu, batang kelapa sawit telah dikembangkan menjadi produk mebel dan furniture. Semestinya, hal-hal ini menjadi perhatian masyarakat dunia bahwa kelapa sawit ini adalah tanaman masa depan. Masa depan disini artinya, kebutuhan pangan dan energi dapat dipenuhi dari kelapa sawit. 

Baca Juga :   Edisi 43 Mei 2015

Mesti diakui, pelaku bisnis kelapa sawit tidak lepas dari kesalahan sewaktu budidaya sawit dijalankan. Tetapi bukan berarti kelemahan ini menjustifikasi  bahwasannya kelapa sawit itu buruk dan tidak patut ditanam.  Harus disadari, pelaku usaha kelapa sawit sangat terbuka dengan perkembangan dan teknologi terbaru misalkan aspek lingkungan, budidaya dan pengolahan limbah. Artinya, sekarang ini industri kelapa sawit terus berbenah dan memperbaiki diri dari kesalahan dengan harapan produk yang dihasilkan akan membantu umat manusia.

Sajian Utama edisi ini mengulas berita mengenai pengendalian tikus di perkebunan sawit yang dapat dikombinasikan antara pengendalian hayati dan kimia. Tentu saja metode ini dapat dipilih sebagai upaya menghadapi serangan tikus. Di pasaran, banyak dijumpai produk pengendali tikus dengan bahan aktif generasi pertama dan kedua. Setiap produk memiliki keunggulan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. 

Baca Juga :   Edisi 48 Oktober 2015

Pembaca kami ingin mengucapkan Selamat Hari Idul Fitri bagi pembaca yang merayakannya. Sekaligus, mohon Redaksi Majalah  Sawit Indonesia dibukakan pintu maaf apabila selama ini terdapat kesalahan yang kami lakukan. Tentu saja, redaksi berupaya memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi. Selamat Membaca..

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Edisi 51 Januari 2015

Melawan Teror Salam Sawit Indonesia,Ledakan bom di kawasan perbelanjaan Sarinah pada awal bulan Januari 2016 mengejutkan masyarakat. Walaupun…
Read More

Optimis Di Tahun Ayam Api

SALAM MAJALAH SAWIT INDONESIA Menjelang berakhirnya 2016, kondisi perdagangan industri sawit mulai membaik. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa…
Read More

Kita Jaga Sawit

Salam Sawit Indonesia, Industri sawit adalah industri yang berupaya menuju tata kelola dan praktik sawit taat lingkungan. Di…