BPDPKS Promosikan Minyak Goreng Sehat

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memiliki sejumlah program yang mendukung penggunaan minyak goreng sehat di masyarakat. Selain itu, ada pula program pendanaan riset sawit termasuk di sektor hilir.

Dalam kata sambutannya, Eddy Abdurrachman menjelaskan Outlook Ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang menunjukkan perbaikan dengan peningkatan aktivitas ekonomi, peningkatan konsumsi dan investasis ehingga diharapkan ekonomi akan pulih di tahun 2021. Berdasarkan proyeksi dari beberapa institusi internasional seperti World Bank, OECD, ADB dan IMF menunjukkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 berada dalam kisaran 4 – 5,3%.

Salah satu faktor utama pendorong pemulihan ekonomi Indonesia di tahun 2021 tentunya upaya pemerintah untuk terus konsisten dalam melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional selama tahun 2020 dan yang akan dilanjutkan di tahun 2021.

Berdasarkan Berita Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang dirilis oleh BPS, dari sisi kondisi makro ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2021 masih mengalami kontraksi sebesar -0,74%, namun angka tersebut sudah lebih baik dibandingkan angka sebelumnya yang terus mengalami perbaikan yaitu di triwulan 3 sebesar -3,49% dan di triwulan 4 sebesar -2,19%. Hal ini memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia, walaupun masih minus pertumbuhannya, tapi sudah mengalami perbaikan yang positif.

“Sektor Perkebunan dengan komoditas sawit sebagai primadona tentunya menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan pertumbuhan di sektor pertanian, kehutanan dan perkebunan di triwulan pertama 2021 didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri terutama untuk komoditas sawit. Sektor ini tumbuh 2,95% di triwulan 1 2021 yang didorong oleh peningkatan produksi kelapa sawit. Industri sawit menjadi variabel yang sangat penting terhadap roda perekonomian karena melibatkan kurang lebih 17 juta tenaga kerja yang termasuk didalamnya kurang lebih 7 juta pekerja di kebun sawit rakyat.

Disamping itu, sektor industri sawit memberikan sumbangan yang cukup besar kepada perekonomian Indonesia. Industri sawit memberikan sumbangan yang cukup besar dalam perolehan devisa negara, melalui ekspor CPO dan produk2 turunannya dengan rata-rata nilai ekspor sebesar USD 21,4 miliar atau sebesar rata-rata 14,19% pertahun dari total ekspor non-migas Indonesia.

Dari sisi penerimaan negara dalam bentuk pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak, industri sawit menyumbangkan pemasukan penerimaan negara dalam bentuk pajak dengan estimasi sebesar Rp 14-20 Triliun per tahun. Sehingga dapat disimpulkan betapa signifikannya peranan industri sawit terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Sebagaimana kita ketahui, sawit sebagai komoditas yang paling produktif, menyumbang kurang lebih 42% dari total supply minyak nabati dunia. Seiring dengan permintaannya yang terus meningkat dari tahun ketahun, pertumbuhan demand minyak nabati dunia meningkat rata-rata sebesar 8,5 juta MT setiap tahunnya. Sementara itu, sawit memiliki data produktivitas lahan terbaik dibandingkan minyak nabati yang lain, sehingga berada di posisi terbaik untuk dapat memenuhi permintaan dunia yang semakin meningkat tersebut.

Text Box: “BPDPKS juga memiliki program penelitian dan pengembangan yang berusaha untuk menyempurnakan proses Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) dengan cara yang baru, sehingga pada proses pembuatan minyak nabati untuk pangan, nutrisi yang ada tidak hilang ketika diproses,” jelas Eddy Abdurrachman.

Salah satu produk hilir dari kelapa sawit, minyak goreng, menjadi salah satu penentu di pasar domestik yang paling konsisten serta dapat diandalkan, yang selama initurut menjaga harga Crude Palm Oil (CPO) di dunia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi domestik untuk minyak goreng cukup stagnan, berada di kisaran angka 9 juta ton per tahun.

“Salah satu alasannya, tentu dikarenakan sebagian besar masyarakat Indonesia yang belum menggunakan minyak goreng dengan cara yang dianjurkan atau digunakan berkali-kali. Lebih dari itu, banyaknya minyak jelantah yang masih beredar di masyarakat, juga tidak membantu meningkatnya konsumsi domestik atas produk hilir minyak goreng ini,” kata Eddy.

(Selengkapnya dapat dibaca di Majalah Sawit Indonesia, Edisi 117)

3 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like